Khutbah Jumat, 6 Februari 2026: Ajaran Nabi dalam Konversi Alam
Berikut inilah teks Khutbah Jumat pada 6 Februari 2026, yang berjudul Ajaran Nabi dalam Konversi Alam.
Jamaah sekalian yang berbahagia,
Sayangnya, umat manusia hingga detik ini masih sangat bergantung kepada hanya satu jenis energi yaitu energi tidak terbarukan, sementara potensi energi terbarukan belum dimanfaatkan secara optimal dan maksimal. Hal ini misalnya saja bisa kita lihat dari program pemerintah yang menargetkan buauran energi 23 persen di tahun 2030, namun hingga oktober 2025 target bauran ini baru mencapai 14,4 persen.
Tentu pemanfaatan yang timpang ini akhirnya pasti akan melahirkan konsekuensi negatif. Efek negatif paling pertama yang pasti akan terjadi adalah kehabisan cadangan energi yang tidak terbarukan, jika kita hanya memanfaatkan sisi energi itu saja. Ketimpangan pemanfaatan energi juga berakibat buruk pada lingkungan kita.
Untuk itu jamaah sekalian, sebagai khalifatullah fil-ardh kita perlu memiliki kesadaran segera untuk mengatasi ketimpangan pemanfaatan energi ini dengan melakukan Langkah-langkah konkret. Di antara Langkah tersebut adalah mengupayakan terus konversi energi yang sejatinya sudah diwariskan ajarannya oleh Nabi saw.
Pertama adalah Rasulullah saw mengajarkan kita untuk hemat dan tidak berlaku boros dalam menggunakan energi di alam. Dalam sebuah hadis:
"Dari Abdullah bin Amr r.a., sesungguhnya Nabi Muhammad saw. melewati Sa’ad yang sedang berwudhu, lalu Nabi berkata: "Apa ini, pemborosan wahai Sa’ad?" Sa’ad bertanya: "Apakah dalam wudhu ada pemborosan?" Beliau bersabda: "Ya, meskipun kamu berada di sungai yang mengalir."
Bentuk konversi yang kedua, adalah selalu berusaha mencari sumber energi lain, berupaya secara bertahap melakukan transisi energi, lebih memanfaatkan energi yang tidak terbarukan untuk keperluan sehari-hari yang lebih ramah lingkungan dan transisi ini dilakukan secara berkeadilan. Upaya mencari alternatif energi tersirat dalam sebuah hadis Nabi saw:
"Hadis Abi Hurairah, ia berkata, seorang lelaki bertanya kepada Nabi saw. wahai Rasulullah, kami adalah pengendara perahu, dan ketika di atas perahu kami hanya membawa sedikit air minum. Jika kami menggunakan air ini untuk berwudhu, maka kami akan haus. Karena itu, apakah halal-boleh bagi kami untuk berwudhu menggunakan air laut? Nabi saw menjawab, air laut itu suci (dan mensucikan) serta bangkai hewan laut itu halal."
Ungkapan “air yang sedikit” pada hadis menjadi simbol atas sumber energi yang terbatas, sementara “air laut yang suci” adalah kiasan bagi sumber energi yang tidak terbatas. Dalam kerangka ini semangat hadis tersebut dapat dimaknai dengan perintah Nabi saw untuk turut juga memanfaatkan berbagai energi yang terbarukan untuk menanggulangi kebutuhan manusia agar tidak mengalami kekurangan yang dalam hadis disebut dengan “keadaan haus”.
Semoga dengan kedua cara ini, kita turut mengupayakan pemeliharaan keseimbangan yang Allah tetapkan di alam ini.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلكُمْ فِى الْقُرآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. إنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَبِيِّ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ .اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ .رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
عِبَادَ الله إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وِالْإِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
(Tribunnews.com/Latifah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/masjid-pusdai-jabar-laksanakan-sholat-jumat-berjamaah_20200320_204329.jpg)