Ramadan 2026
Doa Awal Ramadhan, Menyambut Bulan Suci dengan Ampunan dan Semangat Ibadah
Doa awal Ramadhan berisi harapan untuk menyambut bulan suci dengan memohon ampunan Allah dan memberikan semangat untuk istiqomah beribadah.
Menahan lapar dan dahaga bukan sekadar ritual, melainkan latihan kejujuran dan pengendalian diri.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap amalan Anak Adam kebaikannya dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah (khusus) bagi-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya, ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku.” (HR. Imam Muslim).
2. Berhubungan Suami Istri di Siang Hari dan Kafaratnya
Melakukan hubungan suami istri pada siang hari di bulan Ramadhan membatalkan puasa.
Selain itu, pelakunya juga dikenai kewajiban membayar kafarat sesuai ketentuan syariat, sebagai bentuk tanggung jawab atas pelanggaran tersebut.
Orang yang melakukan hubungan suami-istri pada siang hari di bulan Ramadhan maka diwajibkan kafarat uzhma, karena mereka dengan sengaja membatalkan puasa dengan melakukan hal tersebut.
Kafarat ini memiliki tingkatan, yaitu memerdekakan hamba sahaya, jika tidak mampu maka berpuasa dua bulan berturut-turut, dan jika masih tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin.
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu...”. (QS. Al-Baqarah: 187)
3. Melakukan Perbuatan Dosa
Perbuatan seperti berdusta, memakan riba, atau mengadu domba memang tidak membatalkan puasa secara hukum fikih, tetapi dapat menghapus pahala puasa.
Hal ini karena tindakan tersebut bertentangan dengan tujuan utama puasa, yakni membentuk pribadi yang bertakwa dan berakhlak baik.
Jika seseorang tetap melakukan dosa saat berpuasa, maka ia hanya mendapatkan rasa lapar dan haus tanpa nilai ibadah.
Puasa sejatinya adalah sarana penyucian diri, sehingga menjaga lisan dan perbuatan menjadi bagian penting dari kesempurnaan ibadah tersebut.
4. Melakukan Perbuatan Sia-Sia dan Tidak Bermanfaat
Ucapan kasar, perdebatan tanpa faedah, serta aktivitas yang melalaikan dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa.
Sebab, puasa tidak hanya menahan diri dari hal-hal fisik, tetapi juga mengendalikan sikap dan perilaku.
Rasulullah Saw bersabda: “Bukanlah puasa itu sekedar (menahan) dari makan dan minumannya, namun puasa itu hanyalah (menahan) dari perbuatan sia-sia dan tidak berguna.” (HR. Imam Ibnu Khuzaimah).
Hadis ini mengingatkan bahwa kualitas puasa sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga diri dari hal yang tidak bermanfaat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/DOA-AWAL-RAMADHAN-453454334.jpg)