Pengguna Tembakau Elektronik Diminta Perhatikan Dampak Lingkungan dan Kenyamanan
Garindra Kartasasmita, mengatakan penggunaan rokok elektronik tidak boleh mengabaikan kenyamanan orang lain di sekitar.
Ringkasan Berita:
- Kesadaran kesehatan di kalangan perokok dewasa semakin meningkat, mendorong mereka mencari alternatif yang dianggap lebih rendah risikonya dibanding rokok konvensional.
- Rokok elektronik menjadi salah satu pilihan populer karena dinilai memiliki profil risiko lebih rendah.
- Ketua Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK), Garindra Kartasasmita, menjelaskan perbedaan utama rokok konvensional dan rokok elektronik terletak pada proses penggunaannya.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok, Garindra Kartasasmita, mengatakan penggunaan rokok elektronik tidak boleh mengabaikan kenyamanan orang lain di sekitar.
"Sebagai pengguna, kita harus tahu tempat dan waktu. Jangan sampai uap yang kita keluarkan mengganggu orang lain, apalagi di ruang sempit atau dekat orang lain. Sebaiknya minta izin," ujar Garindra dalam keterangannya, Rabu (8/4/2026).
Ia menekankan bahwa meskipun rokok elektronik tidak menghasilkan asap seperti rokok konvensional, uap yang dihasilkan tetap bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain jika digunakan sembarangan.
Selain aspek sosial, perhatian juga diarahkan pada dampak lingkungan. Limbah dari penggunaan vape seperti cartridge dan botol cairan (liquid) dinilai berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.
Seorang pengguna vape, Mamet, mengaku berupaya menjaga etika dalam penggunaan sehari-hari, termasuk tidak menggunakan vape di area terlarang dan menjaga kebersihan.
"Kalau pakai vape, saya usahakan tidak mengganggu orang lain. Selain itu, sampah seperti botol liquid juga harus dibuang pada tempatnya," katanya.
Menurutnya, kesadaran pengguna menjadi kunci agar penggunaan produk tembakau alternatif tidak menimbulkan persoalan baru, baik dari sisi sosial maupun lingkungan.
Di tengah meningkatnya penggunaan vape, masyarakat juga diimbau untuk tetap bijak dalam bersikap, termasuk memahami aturan yang berlaku serta mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain dan lingkungan sekitar.
Kajian internasional
Kajian dari Office for Health Improvement and Disparities (2022) dan Royal College of Physicians (2024) di Inggris Raya menegaskan produk tembakau alternatif efektif untuk mengurangi kebiasaan merokok.
Profesor Ilmu Adiksi di Universitas East Angel sekaligus Pemimpin Redaksi Riset Nikotin dan Tembakau, Caitlin Notley, menjelaskan kedua laporan tersebut menyimpulkan bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan rokok.
“Produk tembakau alternatif menawarkan pedekatan pengurangan bahaya untuk mendukung orang beralih merokok. Banyak di antaranya mungkin telah mencoba dan gagal menggunakan pendekatan berhenti total,” kata Prof. Noetly.
Selama ini, lanjutnya, produk tembakau alternatif diterpa dengan informasi-informasi menakutkan seperti dampak penggunaannya bagi kesehatan.
“Hal ini secara tidak sengaja dapat mencegah orang untuk mencoba beralih dari kebiasaan merokok yang mematikan,” ujarnya.
Dalam laporan Office for Health Improvement and Disparities yang disusun para akademisi dari King’s College London menunjukkan upaya beralih dari kebiasaan merokok dengan menggunakan produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik/vape, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin, memiliki tingkat keberhasilan tertinggi 64,9 persen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-rokok-elektrik-f102.jpg)