Jumat, 17 April 2026

Bacaan Doa

Doa Sholat Safar Sebelum Pergi Haji dan Umrah sesuai Sunah Rasulullah

Sebelum berangkat haji atau umrah, jemaah dianjurkan melaksanakan sholat safar dua rakaat untuk memohon perlindungan Allah selama perjalanan.

Editor: Dwi Setiawan
Tribunnews.com
DOA SHOLAT SAFAR - Gambar dibuat di Be Funky dan Paint, Selasa (14/4/2026). Sebelum berangkat haji atau umrah, jemaah dianjurkan melaksanakan sholat safar dua rakaat untuk memohon perlindungan Allah selama perjalanan. 
Ringkasan Berita:
  • Sebelum safar, Muslim dianjurkan melaksanakan shalat safar dua rakaat sebagai bentuk ikhtiar memohon perlindungan dan keberkahan.
  • Saat berangkat, dianjurkan berpamitan, berdoa, dan bertawakal kepada Allah.
  • Selama perjalanan, isi waktu dengan zikir, doa safar, serta boleh menjamak dan mengqashar shalat.
  • Setelah urusan selesai, segera pulang dan membaca doa ketika kembali sebagai bentuk syukur.

TRIBUNNEWS.COM - Sebelum berangkat menunaikan ibadah haji dan umrah, seorang Muslim dianjurkan untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin.

Salah satu amalan yang dapat dilakukan adalah melaksanakan sholat safar.

Kementerian Agama menjelaskan bahwa sholat sunah ini kerap dilaksanakan oleh jemaah haji dari Indonesia sebelum melakukan perjalanan ke Baitullah.

Selain dikerjakan sebelum berangkat haji dan umrah, sholat safar juga dianjurkan sebelum melakukan perjalanan jauh yang tujuan perjalannya bukan untuk maksiat.

“Sungguh, Nabi Muhammad Saw. tidak tinggal di suatu tempat kecuali meninggalkan tempat tersebut dengan shalat dua rakaat” (HR Anas bin Malik).

Karena pentingnya sholat sunah ini, Rasulullah SAW. menyebutnya amalan yang berharga bagi keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan.

“Tidak ada sesuatu yang lebih utama untuk ditinggalkan seorang hamba bagi keluarganya, daripada dua rakaat yang dia kerjakan di tengah (tempat) mereka ketika hendak melakukan perjalanan.” (HR at-Thabrani).

Hadis lain menjelaskan bahwa sholat safar dapat melindungi seseorang dari segala kejelekan selama perjalanan.

“Jika engkau keluar dari rumahmu maka lakukanlah shalat dua rakaat, yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Dan jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua rakaat yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah” (HR. al-Baihaqi).

Kementerian Agama menjelaskan tidak ada waktu khusus untuk melaksanakan sholat safar.

Baca juga: Doa Naik Pesawat bagi Jemaah Haji dan Umrah agar Selalu Dilindungi Allah

Sebagai persiapan perjalan haji, berikut doa dan tata cara melaksanakan sholat safar, seperti dijelaskan dalam laman Kementerian Agama.

Tata Cara Sholat Safar

1. Membaca Niat Sholat Safar

أُصَلِّي سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى 

Ushalliî sunnatas safari rak’ataini lillâhi ta’âla

Artinya, “Saya niat shalat sunnah perjalanan dua rakaat karena Allah ta’âla.”

2. Membaca Surat Al-Fatihah

3. Membaca surat pendek (dianjurkan rakaat pertama membaca Al-Kafirun dan rakaat kedua Al-Ikhlas)

4. Ruku' 

5. Itidal

6. Sujud

7. Duduk di antara dua sujud 

8. Sujud kedua

9. Berdiri untuk melanjutkan sholat rakaat kedua, hingga sujud kedua, lalu duduk Tahiyat/Tasyahud Akhir

Bacaan Tasyahud Akhir

اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

At-tahiyyaatu lillaahi was-sholawaatu wat-thayyibaatu, Assalaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh, Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahis-shoolihiin, Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita ‘alaa Ibraahiim wa ‘alaa aali Ibraahiim, wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa baarakta ‘alaa Ibraahiim wa ‘alaa aali Ibraahiim, fil ‘aalamiina innaka Hamiidum Majiid.

Artinya: "Segala kehormatan, keberkahan, dan kebaikan adalah milik Allah. Keselamatan atasmu, wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahkanlah berkah kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia di seluruh alam."

10. Salam.

Doa Safar

للَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَىٰ، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَىٰ، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ.

Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Subḥānallażī sakhkhara lanā hāżā wa mā kunnā lahu muqrinīn, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn. Allāhumma innā nas’aluka fī safarinā hāżal birra wat-taqwā, wa minal ‘amali mā tarḍā. Allāhumma hawwin ‘alainā safaranā hāżā waṭwi ‘annā bu’dah. Allāhumma antaṣ-ṣāḥibu fis-safar wal-khalīfatu fil-ahl. Allāhumma innī a‘ūdzu bika min wa‘tsā’is-safar, wa ka’ābatil-manẓar, wa sū’il-munqalabi fil-māli wal-ahl.

Artinya: “Ya Allah, kami mohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan, takwa, dan amalan yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jauhnya. Ya Allah, Engkau adalah teman dalam perjalanan dan pengganti bagi keluarga yang ditinggalkan. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan perubahan buruk atas harta serta keluarga.”

Adab Ketika Safar dalam Islam

Safar atau perjalanan jauh merupakan bagian dari kehidupan seorang Muslim, baik untuk ibadah, pekerjaan, maupun keperluan lainnya.

Berikut adab ketika safar yang dikutip dari Muhammadiyah dan Kementerian Agama.

1. Menjelang Keberangkatan: Shalat Safar

Sebelum memulai perjalanan, dianjurkan untuk melaksanakan shalat safar sebanyak dua raka’at.

Amalan ini menjadi bentuk ikhtiar spiritual agar perjalanan diberi keberkahan dan perlindungan dari Allah Swt.

Berdasarkan hadits dari Ibnu Mas’ud, pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW dan berkata: “Ya Rasulullah, saya hendak pergi ke Bahrain untuk urusan dagang”. Lalu Rasulullah menyuruh orang itu: “Pergilah shalat 2 raka’at” (HR. Thabrani dalam al-Kabir).

Hadits dari Mukmin bin Miqdad menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah berkata: “Tidaklah sesuatu yang sangat utama bagi seseorang yang hendak meninggalkan sesuatu pada keluarganya melebihi shalat 2 raka’at yang di tengah mereka kalau ia hendak bepergian” (HR. Thabrani).

2. Berpamitan dengan Keluarga

Saat hendak bepergian, penting untuk berpamitan kepada keluarga agar mereka mengetahui keberangkatan kita. Dalam momen ini, dianjurkan untuk saling mendoakan agar perjalanan diberi keselamatan.

Dari Musa bin Wardan berkata; Abu Hurairah berkata kepada seorang laki-laki: “Kemarilah, saya akan mengucapkan selamat tinggal (berpamitan) kepadamu sebagaimana Rasulullah SAW mengucapkan selamat tinggal kepadaku, atau sebagaimana Rasulullah SAW mengucapkan selamat tinggal; aku titipkan engkau kepada Allah yang tidak menyia-nyiakan titipan-Nya”

Selain itu, dianjurkan berjabat tangan dan mengucapkan salam sebagai bentuk penghormatan.

“Hendaklah kalian saling berjabat tangan, niscaya akan hilanglah kedengkian” (HR. Malik).

“Termasuk kesempurnaan penghormatan adalah berjabat tangan” (HR. Tirmidzi).

3. Saat Keluar Rumah

Ketika keluar rumah, seorang Muslim dianjurkan untuk bertawakal kepada Allah dengan membaca doa berikut:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Bismillāhi tawakkaltu ‘alallāh, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.

Artinya: “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Doa tersebut berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik.

Dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang laki-laki keluar dari rumahnya lalu mengucapkan: ‘BISMILLAHI TAWAKKALTU ‘ALAALLAHI LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH (Dengan nama Allah aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah). ‘ Beliau bersabda: “Maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya, ‘Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi kecukupan dan mendapat penjagaan’, hingga setan-setan menjauh darinya. Lalu setan yang lainnya berkata, “Bagaimana (engkau akan mengoda) seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan dan penjagaan.” (HR. Abu Daud)

4. Saat di Dalam Kendaraan

Ketika sudah berada di atas kendaraan, dianjurkan untuk membaca doa safar setelah bertakbir tiga kali:

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنْ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ

Subḥānallażī sakhkhara lanā hāżā wa mā kunnā lahu muqrinīn, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn. Allāhumma innā nas’aluka fī safarinā hāżal birra wat-taqwā, wa minal ‘amali mā tarḍā. Allāhumma hawwin ‘alainā safaranā hāżā waṭwi ‘annā bu’dah. Allāhumma antaṣ-ṣāḥibu fis-safar wal-khalīfatu fil-ahl. Allāhumma innī a‘ūdzu bika min wa‘tsā’is-safar, wa ka’ābatil-manẓar, wa sū’il-munqalabi fil-māli wal-ahl.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini, kami mohon perbuatan yang Engkau ridhai. Ya Allah, permudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah pendampingku dalam bepergian dan mengurusi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan kepulangan yang buruk dalam harta dan keluarga” (HR. Muslim)

5. Mengisi Waktu Selama Perjalanan

Selama safar, waktu sebaiknya diisi dengan amalan yang bermanfaat seperti berzikir, membaca Al-Qur’an, atau membaca buku.

Dari al-Aghar al-Muzanni (salah seorang sahabat Rasulullah SAW), Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya hatiku tidak pernah lalai dari zikir kepada Allah, susungguhnya Aku beristighfar seratus kali dalam sehari” (HR. Muslim)

Selain itu, dianjurkan membaca zikir:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Subḥānallāh wal-ḥamdu lillāh wa lā ilāha illallāh wallāhu akbar.

Artinya: “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar.”

6. Melaksanakan Shalat Jamak Qashar

Dalam perjalanan, shalat fardhu dapat dilaksanakan dengan jamak dan qashar sebagai bentuk keringanan dari Allah Swt.

“Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Allah Ta’ala telah mewajibkan shalat lewat lisan Nabi kalian ketika menetap (tidak bepergian) sebanyak empat raka’at, di waktu bepergian dua raka’at dan dalam kondisi takut (dalam Perang) satu raka’at.” (HR. Abu Daud)

7. Segera Pulang Setelah Urusan Selesai

Islam menganjurkan agar seseorang tidak berlama-lama dalam perjalanan jika urusannya telah selesai.

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda: "… apabila salah seorang dari kalian telah menyelesaikan urusan (saat bepergian), hendaklah dia segera kembali kepada keluarganya” (HR. Bukhari)

8. Adab Saat Kembali dari Safar

Setelah kembali dari perjalanan, dianjurkan membaca doa berikut:

آيِبُونَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَائِبُونَ عَابِدُونَ حَامِدُونَ لِرَبِّنَا سَاجِدُونَ صَدَقَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

Āyibūna in syā’a-llāhu tā’ibūn, ‘ābidūn, ḥāmidūn, li-rabbinā sājidūn. Ṣadaqa-llāhu wa‘dah, wa naṣara ‘abdah, wa hazamal-aḥzāba waḥdah.

Artinya: “Kita kembali, insya Allah sebagai hamba yang bertaubat, beribadah, memuji-Nya dan yang sujud untuk Rabb kita. Allah Maha Benar dengan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan menghancurkan musuh-musuh-Nya” (HR. Bukhari).

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved