Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
Insiden KRL Vs KA Argo Bromo Picu Trauma Psikologis, Waspada Jika Mulai Keringat Dingin dan Gemetar
-- Insiden tabrakan KRL Vs KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam tidak hanya menimbulkan luka pada fisik dan mental.
Ringkasan Berita:
- Luka psikologis akibat trauma insiden kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo perlu diwaspadai.
- Korban kecelakaan umumnya mengalami respons awal seperti kaget, bingung, dan disorientasi.
TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -- Insiden tabrakan KRL Vs KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam tidak hanya menimbulkan luka pada fisik, tetapi juga luka psikologis yang perlu diwaspadai.
Pengalaman traumatis yang dialami penumpang, saksi, hingga keluarga korban bisa memicu berbagai respons emosional, mulai dari syok, cemas, hingga risiko gangguan stres pascatrauma jika tidak ditangani dengan tepat.
Baca juga: Penumpang KRL Gemetar, Cemas & Gugup Usai Insiden Bekasi Timur, Ini Saran Psikolog Hilangkan Trauma
Psikolog dari Universitas Airlangga, Atika Dian Ariana menjelaskan, reaksi emosional tersebut hal yang wajar ketika seseorang menghadapi peristiwa berbahaya secara tiba-tiba.
Korban kecelakaan umumnya mengalami respons awal seperti kaget, bingung, dan disorientasi.
Seiring waktu, kondisi ini dapat berkembang menjadi kecemasan, kesedihan, kemarahan, hingga kepanikan.
Respons tersebut juga bisa ditandai dengan gemetar, jantung berdebar, keringat dingin, dan sesak napas sebagai bagian dari respons stres tubuh.
"Setiap individu memiliki kemampuan untuk pulih, namun tingkat keparahan peristiwa dan kondisi psikologis masing-masing," kata dia ditulis di Jakarta, Kamis (30/4).
Saat pengalaman dirasakan melampaui batas ketahanan individu, maka risiko gangguan seperti Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) dapat meningkat.
Faktor lain seperti pengalaman traumatis sebelumnya, riwayat gangguan mental, serta minimnya dukungan sosial juga dapat memperbesar risiko.
Selain itu, tekanan hidup lain seperti masalah ekonomi atau akademik dapat memperlambat proses pemulihan.
Tanda-tanda yang perlu diwaspadai adalah ingatan traumatis yang terus muncul, mimpi buruk, kewaspadaan berlebihan, menghindari hal yang berkaitan dengan kejadian.
Jika gejala tersebut berlangsung berulang dalam waktu lama segera cari bantuan profesional agar kondisi tidak memburuk.
"Pemerintah dan pihak terkait diharapkan berperan aktif dalam menyediakan layanan pendampingan psikologis yang terstruktur bagi korban," saran Atika.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Wacana-Pemindahan-Gerbong-Wanita-KRL_20260429_213956.jpg)