Sabtu, 16 Mei 2026

Batik Peranakan Terancam Punah, Pembatik Tinggal Belasan Orang dan Banyak Tak Punya Penerus

Batik peranakan Tionghoa terancam punah. Jumlah pembatik terus menyusut dan banyak tak punya penerus keluarga.

Tayang:
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/Tribunnews.com/Aisyah Nur
BATIK PERANAKAN TIONGHOA - Seniman, desainer, dan edukator batik Indonesia Dave Tjoa menunjukkan detail batik peranakan Tionghoa saat Pameran “Metamorfosa: Akulturasi Batik Peranakan” di Bentara Budaya Art Gallery, Menara Kompas, Jakarta, Kamis (14/5/2026). Dalam pameran tersebut, Dave mengungkap jumlah pembatik peranakan di sejumlah daerah pesisir Jawa terus menyusut dan banyak yang tidak memiliki penerus keluarga. 

Ringkasan Berita:
  • Batik peranakan Tionghoa kini terancam punah karena minim regenerasi pembatik 
  • Seniman Dave Tjoa menyebut jumlah pembatik di Cirebon tinggal satu orang, sementara di Pekalongan hanya tersisa dua rumah batik 
  • Banyak pembatik lanjut usia dan anak-anak mereka memilih profesi lain sehingga tradisi sulit diteruskan

 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Batik peranakan Tionghoa yang selama ini menjadi bagian penting dari sejarah budaya Indonesia kini menghadapi ancaman serius.

Jumlah pembatiknya terus berkurang dan sebagian besar tidak memiliki penerus keluarga yang mau melanjutkan usaha membatik.

Kondisi itu diungkapkan seniman, desainer, dan edukator batik Indonesia Dave Tjoa dalam Pameran “Metamorfosa: Akulturasi Batik Peranakan” di Bentara Budaya Art Gallery, Menara Kompas, Jakarta.

Rumah Batik Legendaris Mulai Berhenti Produksi

Menurut Dave, beberapa rumah batik peranakan legendaris mulai berhenti beroperasi karena tidak ada generasi penerus.

Baca juga: Dorong Batik Lebih Dekat dengan Anak Muda, Rumah Batik TBIG Kolaborasi dengan Desainer Profesional

“Salah satunya adalah batik Wisucut yang terletak di sebelah kiri kita. Batik ini sudah berdiri dari tahun 1925 dan tahun kemarin adalah 100 tahun mereka berproduksi,” ujar Dave, Kamis (14/5/2026). 

Namun setelah satu abad bertahan, rumah batik tersebut kini terancam berhenti.

“Sayangnya, sayangnya saya bilang, tidak akan ada penerusnya,” lanjutnya.

Dave menjelaskan persoalan regenerasi menjadi tantangan terbesar batik peranakan Tionghoa.

Banyak keluarga pembatik masih mempertahankan tradisi bahwa usaha batik hanya boleh diteruskan oleh keturunan dengan garis marga yang sama.

Akibatnya, ketika anak perempuan menikah dan mengikuti marga suami, usaha batik sering kali tidak bisa diwariskan.

Jumlah Pembatik Terus Menyusut

Menurut Dave, kondisi serupa terjadi di sejumlah sentra batik pesisir utara Jawa seperti Cirebon, Pekalongan, dan Lasem.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved