Di Balik Kanker, Ada Harapan dan Kekuatan

Bet_Noire
Ilustrasi kanker 
profile akademia
Penulis Karya
Ermelinda D. Meye
Mahasiswa Doktor Biologi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada

Kanker merupakan penyakit yang menjadi penyebab kematian tertinggi kedua di dunia setelah penyakit jantung. Organisasi Kesehatan Dunia melalui Global Cancer Observatory memprediksi bahwa pada tahun 2040 akan ada 27,5 juta kasus baru kanker yang didiagnosis setiap tahunnya, di mana meningkat sebesar 61,7 persen.

Di Indonesia, kasus kanker juga terus meningkat dan jumlah kematian tertinggi adalah kanker payudara, diikuti kanker leher rahim, paru dan kolorektal. Jumlah kasus tertinggi pada perempuan adalah kanker payudara, sedangkan pada laki-laki adalah kanker paru (Kemenkes, 2024). Hal ini bukan lagi menjadi masalah pribadi tetapi menjadi tantangan bangsa yang harus mendapat intervensi yang tepat, efektif dan berkelanjutan. 

Pertanyaan klasik yang sering terlontar mengapa penyakit kanker semakin meningkat dewasa ini? Terdapat beberapa faktor penyebab kanker antara lain faktor biologis, genetik dan juga gaya hidup yang kurang sehat seperti makan makanan fast food dan kurangnya berolahraga menjadi faktor pemicu terjadinya kanker. Selain itu risiko tinggi pada orang yang merokok, obesitas dan hipertensi.

Kebanyakan pasien kanker didiagnosis pada stadium lanjut sehingga penangannya menjadi sulit yang mengakibatkan angka kematian meningkat. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain rendahnya tingkat pendidikan, ekonomi dan akses pelayanan kesehatan yang belum merata.

Tingkat pendidikan yang rendah nenyebabkan masyarakat tidak mempunyai pengetahuan untuk melakukan deteksi dini seperti papsmear, Inpeksi Visual Asam Asetat (IVA) dan pemeriksaan payudara mandiri (SADARI), khususnya pada perempuan. Sedangkan pada laki-laki yang menjadi pemicu utama kanker paru adalah merokok. Indonesia termasuk negara dengan jumlah perokok tertinggi di dunia.

Faktor ekonomi juga turut berkontribusi bagi masyarakat menengah ke bawah sehingga mereka cenderung melakukan pengobatan tradisional karena dianggap biaya pengobatan kanker mahal sehingga ketika sudah tidak dapat disembuhkan secara tradisional, barulah ke fasilitas kesehatan dengan stadium lanjut. 

Akses pelayanan kesehatan juga belum merata, dimana untuk terapi kanker (radioterapi dan kemoterapi) hanya dapat dilakukan di rumah sakit di ibu kota provinsi atau di kota-kota besar lainnya. Hal ini menyebabkan biaya yang tinggi untuk penginapan dan waktu tunggu selama proses pengobatan walaupun biaya pengobatan ditanggung BPJS. Tantangan inilah yang perlu segera mendapatkan perhatian dan solusi yang tepat serta membutuhkan kolaborasi berbagai pihak baik pemerintah pusat, daerah, masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat di bidang kesehatan dan akademisi.

Pemerintah telah melakukan beberapa upaya untuk mengurangi angka kejadian kanker di Indonesia, namun usaha ini belum optimal karena adanya berbagai tantangan tersebut di atas dan kurangnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan. Upaya yang telah dilakukan antara lain peningkatan kapasitas, sarana prasarana kesehatan melalui revitalisasi jejaring dan standarisasi layanan kesehatan puskesmas, posyandu dan Labkesmas.

Pencegahan primer melalui imunisasi rutin seperti vaksin HPV dan hepatitis di seluruh Indonesia. Edukasi masyarakat melalui penguatan peran kader dan edukasi kesehatan melalui media masa dan digital. Edukasi kesehatan juga dilakukan oleh akademisi melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan mensosialisasi tentang kesehatan termasuk kanker, pengolahan makanan bergizi dan obat tradisional. Kebijakan tentang pajak dan iklan rokok juga lebih diperketat. Pencegahan sekunder dilakukan melalui skrining secara berkala yang dilakukan oleh BPJS. Deteksi dini juga menjadi salah satu langkah pencegahan sekunder antara lain melakukan papsmear, IVA, SADARI, USG/mammografi.

Sedangkan pencegahan tersier adalah dengan peningkatan dan penambahan fasilitas kesehatan kanker (radioterapi dan kemoterapi) dan tenaga onkologi ke daerah (regional) sehingga tidak terpusat di kota propinsi atau kota-kota besar saja. Selain itu juga dukungan secara sosial dan psikis kepada pasien dan keluarga menjadi penting agar proses terapi dapat berjalan dengan baik.

Dalam rangka mendukung upaya pemerintah untuk mencapai goal di bidang kesehatan secara khusus mengurangi angka kematian kanker, maka bukan hanya sekedar intervensi yang tepat dan berkelanjutan, tetapi yang paling penting adalah upaya pencegahan. Pepatah mengatakan “mencegah lebih baik daripada mengobati” seharusnya menjadi salah satu prinsip hidup setiap orang.

Beberapa langkah kecil tetapi sangat berarti dapat dilakukan dalam upaya pencegahan terhadap penyakit kanker ini. Salah satunya adalah dengan menerapkan pola hidup sehat yaitu makan makanan yang bergizi seperti sayuran dan buah sebagai sumber antioksidan. Kebiasaan berolahraga secara teratur dan sehat secara mental merupakan faktor penting dalam upaya mencegah kanker. Pola pikir masyarakat harus diubah dari kebiasaan makan makanan siap saji ke makanan yang sehat tanpa pengawet sintetis yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita yaitu pangan lokal seperti ubi, jagung, pisang dan kacang-kacangan. Langkah ini perlu menjadi perhatian serius untuk menggalakan kembali makanan lokal khususnya kepada generasi muda agar makanan pokok tidak tergantung pada beras saja. 

Upaya pencegahan yang tidak kalah penting lainnya adalah edukasi tentang pemanfaatan obat tradisional khususnya yang berasal dari bahan alam. Penggunaan obat tradisional oleh masyarakat hanya berdasarkan pemahaman yang diwariskan secara turun temurun sehingga dosis dan jangka waktu penggunaannya secara ilmiah tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga hal inilah yang menyebabkan ketika terdeteksi kanker, sebagian masyarakat melakukan pengobatan tradisional, ketika tidak berhasil barulah ke fasilitas kesehatan dengan stadium yang sudah lanjut.

Oleh karena itu peran akademisi menjadi penting untuk melakukan berbagai penelitian tentang khasiat tumbuhan/hewan sebagai agen kemopreventif kanker dan imunomodulator sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tumbuhan atau hewan tertentu seperti spons laut mengandung metabolit sekunder seperti alkaloid, fenol, terpenoid dan steroid yang mempunyai aktifitas antikanker sehingga dapat dikembangkan sebagai kandidat obat dengan efek samping dan efek reseistensi yang lebih rendah.

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa angka kematian kanker dapat diturunkan dengan memperkuat pencegahan primer, sekunder dan tersier yang membutuhkan pendekatan lintas sektor bukan hanya sektor kesehatan saja. Jika masyarakat Indonesia sehat jasmani dan rohani, maka akan menjadi bangsa yang kuat dan masa depan yang sejahtera. 

Baca juga: 6 Langkah SADARI untuk Deteksi Kanker Payudara dan Kenali Perubahan yang Harus Diwaspadai