TRIBUNNEWS.COM - Dunia hari ini bukanlah sebuah tatanan stabil dan damai, melainkan bercorak abu-abu penuh ketidakpastian. Di mana banyak negara saling terlibat seteru demi harga diri.
Di tengah ketidakpastian itulah, Presiden Prabowo Subianto melangkah ke London dan Swiss membawa misi lebih dalam, bahwa Indonesia sedang berada pada performanya sebagai negara berdaulat dan tak bisa didikte.
Kunjungan ini sebagai penegasan tentang posisi Indonesia yang tegak lurus, tidak miring ke kiri ke arah Beijing atau terlalu condong ke kanan ke Washington.
“Positioning” Indonesia
Saat Amerika Serikat memainkan jurus proteksionisme lewat tarif dan kebijakan perdagangan "ketat", Jakarta justru memilih terbang ke Eropa.
Ini dapat dimaknai sebagai simbolisme sikap tegas namun tetap elegan. Maknanya, jika satu pintu di Pasifik mulai menyempit karena urusan tarif, masih terbuka pintu lain bagi Indonesia di Atlantik dan Alpen.
Presiden Prabowo tampaknya sedang mempraktekkan semangat gerakan non-blok yang aktif dalam bentuk paling mutakhir.
Sebuah langkah diplomasi berkaliber dan sangat taktis. Presiden Prabowo seperti sedang ingin mengatakan Indonesia tidak lagi sekadar menjadi objek percaturan global, tetapi subjek yang menentukan arah kedaulatannya.
Dengan mengunjungi Inggris dan Swiss, Indonesia sedang melakukan repositioning agar diakui sebagai kekuatan menengah (middle power) yang punya nyali untuk berdialog setara dengan negara-negara G7.
Ini bukan perlawanan, melainkan pesan bijak pada dunia bahwa Indonesia bukan "pengikut" dan menunggu perlakuan negara lain apapun bentuknya.
Kehadiran Presiden Prabowo khususnya di Davos setelah absennya pemimpin Indonesia selama satu dekade, merupakan langkah strategis membangun confidence (kepercayaan) global.
Apalagi jika Prabowo dapat mengkonstruksi keberadaan Danantara sebagai instrumen diplomasi ekonomi gaya baru.
Menghadapi Tarif Amerika
Penandatanganan perjanjian tarif, acapkali menempatkan negara berkembang seperti Indonesia di posisi sulit. Namun, dengan memperkuat Inggris dan Swiss sebagai basis finansial dan teknologi, sertai pusat diplomasi ekonomi global, seolah Presiden Prabowo sedang membangun "bantalan" strategi.
Sebuah langkah counterbalance bahwa dalam diplomasi internasional Indonesia menunjukkan posisi tawar tinggi.
Wajar, sebab Indonesia memiliki sumber daya, pasar yang luas, dan nyali sebagai bangsa merdeka berdaulat.
Andai benar Amerika hendak memainkan tarif, Indonesia sudah lebih dulu mengamankan investasi hijau dan kerja sama teknologi dari Inggris serta akses modal dari Swiss. Dalam bahasa dagang “Jangan letakkan semua telur dalam satu keranjang”.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sendiri pernah memberikan apresiasi secara personal terhadap gaya diplomasi Presiden Prabowo.
Melalui platform Truth Social, Trump menyebut Prabowo sebagai pemimpin yang "hebat" dan "sangat dihormati."
Trump juga melihat Indonesia sebagai mitra "keras tapi adil" dalam negosiasi.
Bagi Trump, kesepakatan penurunan tarif dari 32 persen ke 19 persen adalah win-win solution.
Keuntungan Strategis
Melihat Inggris bukan hanya wajah negara kerajaan tua. Bagi Indonesia, London pintu gerbang modernisasi militer dan pendidikan.
Dengan begitu kans bagi upaya transfer teknologi, yang selama ini sulit didapat dari negara lain, menjadi terbuka. Sementara di Swiss, lewat forum Davos, presiden Prabowo bisa "menjual" stabilitas.
Di tengah dunia yang sedang meradang, stabilitas menjadi barang mewah. Indonesia bisa menawarkan potensi itu sebagai keuntungan bagi Swiss dan Inggris.
Mereka mendapatkan mitra sehat dan stabil di kawasan paling dinamis, Indo-Pasifik.
Ini adalah hubungan simbiosis mutualisme. Indonesia butuh modal mereka, sementara mereka butuh jangkar keamanan di kawasan.
Kunjungan ini menunjukkan cara Indonesia bahwa kita tidak bergantung pada satu kutub kekuatan saja, Amerika Serikat atau Tiongkok, tetapi juga Inggris dan Swiss.
Sehingga memberi posisi tawar (bargaining power) lebih kuat bagi Indonesia.
Jika sewaktu-waktu perdagangan kawasan Pasifik mulai redup, Indonesia punya harapan bersinar yakni pasar baru Eropa.
Ketahanan Nasional
Ancaman global berupa disrupsi rantai pasok dan inflasi energi selalu menghantui bangsa-bangsa termasuk Indonesia.
Presiden Prabowo kelihatannya paham betul filosofi Survival of the Fittest. Karena itu kunjungan ini sekaligus menjadi upaya menjamin agar Indonesia tetap aman dan stabil meski konflik masih berkecamuk di belahan bumi lain.
Kerja sama berbagai sektor dengan Inggris dan sistem vokasi dengan Swiss menunjukan sikap "kemandirian". Sembari belajar dari Swiss bagaimana mengelola ekonomi tangguh meski dikepung negara besar.
Kita juga bisa belajar dari Inggris bagaimana tetap punya pengaruh global meski sudah keluar dari blok besar (Brexit).
Langkah Prabowo di London dan Davos adalah sinyal tanpa suara bagi Washington. Bahwa Indonesia siap bermitra dengan Amerika, siap bicara soal tarif, tapi tidak dalam posisi menunduk.
Sebagai "Pendekar", Presiden Prabowo tetap menghormati siapa pun, merangkul dengan persahabatan, tetapi siap dengan kuda-kuda jika kedaulatan ekonomi diganggu.
Dunia mungkin sedang tidak baik-baik saja, tapi Indonesia sedang memastikan diri untuk tetap tegak, berdaulat, dan tidak menjadi pion dalam permainan catur orang lain
Inilah permainan di liga besar. Berani, taktis, dan tetap membumi.
Baca juga: Tembok Trump, Shutdown, dan Krisis Demokrasi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-diplomasi-191.jpg)
