Kamis, 30 April 2026

Pilpres 2024

Ganjar Pranowo Dengar Curhat Perajin Ukiran Jepara soal Kemudahan Akses Permodalan

Ganjar Pranowo menyapa  para perajin ukir di Desa Blimbingrejo, Nalumsari, Jepara, Jawa Tengah, Selasa (2/1/2024).

Tayang:
Tribunnews.com/Rahmat W. Nugraha
Ganjar Pranowo kunjungi Desa Blimbingrejo, Nalumsari, Jepara, Jawa Tengah, Selasa (2/1/2024). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rahmat W Nugraha

TRIBUNNEWS.COM, JEPARA - Calon presiden nomor urut 3, Ganjar Pranowo, menyapa  para perajin ukir di Desa Blimbingrejo, Nalumsari, Jepara, Jawa Tengah, Selasa (2/1/2024).

Dalam kesempatan itu, Ganjar menyerap aspirasi dari perajin ukir yang mengeluhkan soal akses permodalan.

Para perajin ukir berharap Ganjar dapat memperbaiki kondisi ekonomi sehingga kejayaan Jepara yang dijuluki Kota Ukir kelas dunia dapat kembali bangkit.

Selama ini, menurut pengakuan para perajin, akses permodalan-lah yang selalu menjadi kendala untuk kegiatan produksi.

Selama ini pengerajin hanya mendapatkan bantuan permodalan dari program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan plafon yang beragam.

“Makanya perlu bantuan modal dari lainnya. Ini rata-rata permodalannya yang kurang. Kalau cuma Rp 5 juta, Rp 10 juta, Rp 15 juta diberikan bertahap sudah habis buat bayar pekerja sama beli kayu. Jadi tidak bisa menjual, ya kita berhenti. Kalau pakai KUR sudah mentok,” ujar salah seorang perajin kepada Ganjar.

Baca juga: Perang Udara Kian Masif Jelang Pilpres 2024, Ini Peta Kekuatan Capres dan cawapres di Medsos

Alasan tambahan modal tersebut disebabkan karena adakalanya konsumen dalam jumlah yang banyak akan tetapi kurang akibat tidak bisa membeli bahan baku.

Alhasil kebutuhan pesanan konsumen tidak bisa dipenuhi.

“Kita tidak bisa Pak Ganjar karena terbentur modal,” tegas perajin.

Jumlah perajin ukir mebel di Blimbingrejo mencapai 100 orang dengan rata-rata perajin punya 5-10 pekerja.

Padahal dari teknik pemasaran, para perajin sudah mengandalkan metode online melalui media sosial seperti Facebook ataupun whatsApp.

Ada bagian yang memasarkan, ada yang bagian produksi.

Mendapat curhat dari para perajin tersebut, Ganjar langsung meresponnya dengan cepat.

“Langsung sat set aja. Tolong kelompoknya diinventarisir biar diklasifikasi jumlah modalnya,” ujarnya.

Ganjar menambahkan memang industri ukir di Jepara ini masih menjadi idola, khususnya untuk produk gebyok, dan penjualannya masih bagus.

Para perajin sudah mau modernisasi cara menjualnya. Namun, lanjut Ganjar, akses permodalan yang masih dibutuhkan.

“Seringkali ketika mengambil kredit KUR ternyata keluhannya sedikit-sedikit maka pada saat proyeknya sudah berakhir, uangnya sudah habis dipakai bayar buruh. Mereka minta skim agar kreditnya bisa lebih mudah dan bisa diambil di depan dan seterusnya,” tandas Ganjar.

Lebih lanjut, Ganjar juga menilai perlu kiranya melestarikan dan mengembangkan agar Jepara bisa menjadi tempat pusat ukir dan memanfaatkan teknologi untuk kemajuan industri.

"Ada usulan perlunya sekolah vokasi untuk ukir. Hal ini agar kerajinan ukiran diminati anak-anak sehingga ada proses regenerasi," tegasnya.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved