Calon Pilot Indonesia Tertipu di Amerika
Berawal dari Kesaksian Alumnus Akmil Kapten Hifni Assegaff
Para siswa korban penerbangan datang kepadanya mencari tahu akar persoalan. Kapten Hifni pun mengontak pihak Konsulat Jenderal RI di California.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Kapten Hifni Assegaff lulusan Akademi Militer (Akmil) Magelang satuan Infantri. Tak lama setelah berdinas di militer, ia keluar dari TNI AD tahun 1996, dan bergabung ke maskapai penerbangan Bouraq Airlines. Selama 8 bulan dia tugas di Bouraq Jakarta, kemudian sekolah calon penerbanga ke Amerika Serikat pada Business Airflight Academy.
"Saya bisa menerbangkan pesawat single engine, multiengine, dan pernah training di united airline traning center Boing 730 seri 400," ujarnya dalam perbicangan dengan pendiri Kabarinews.com, John Oei yang diunggah melalui video streaming Yout Tube.
Hifni pun menjadi instruktur sekolah penerbangn sejak 1998. Dia telah berpindah-pindah perusahaan tempat bekerja seperti Aircraft Sevice Management untuk menyuplai obat-obatan ke rumah sakit di Amerika, California American Flyers, dan terakhir Riverside Flight Center, AS.
Menurut penuturan Hifni mengenai penipuan yang dialmai puluhan calon siswa sekolah penerbang bermula saat dia melihat media jurnal di AS mengenai sekolah penerbangan milik orang Indonesia dan siswanya kebanyakan orang Indonesia.
"Wah saya bangga sekali. Saya bangga karena saya senang kalau bangsa saya maju. Pemilik dan studennya kebanyakan orang Indoensia, jadi saya bangga sekali," ujarnya dalam rekanam video streaming yang diunggah YouTube.
Kemudian, secara tidak sengaja, waktu salat jumat, ia bertemu dengan seorang siswa penerbangan itu, ternyata mereka kecewa. "Waduh, kapten, sekolahnya tidak karu-karuan, kami sudah tidak terbang lagi, karena diberi pelajaran yang tidak sesuai dan disodori kontrak yang tidak sesuai perjanjian awal," kata Hifni.
Setelah itu, ia meminta para siswa korban penerbangan datang kepadanya mencari tahu akar persoalan. Dia pun mengaku telah mengontak pihak Konsulat Jenderal RI di California.
Menurut dia, seorang warga Indonesia yang tinggal di AS, OM, mengaku memiliki sekolah penerbang, bernama Accelarate 36. "Saya sudah ketemu orangnya. Permaianannya, ia mengaku, salah satu maskapai penerbangan di Indoneisa menjadi sponsornya. Setelah sekolah selesai, akan terbang di maskapai penerbangan itu. Mereka dijanjikan sekolah pilot di Amerika dengan membayar biaya 30 ribu US dolar. Mereka dijanjikan setelah mendapatkan brevet akan terbang bersama maskapai ini," kata Hifni.
Para siwa dijanjikan dapat lisensi pilot pribadi, pesawat bermesin tunggal, insturmen rating, kemudian pilot pesawat komersial, dan pilot pesawan multimesin, termasuk biaya endorcement dan pekerjaan pada satu maskapai penerbangan. "That's imposible. Tidak mungkin. Sebab sekolah pilot sekarang, sudah sekitar 35 US dollar, ini paling murah. Zaman saya dulu, tahun 1996-1998, sudah 18.000 dolar untuk 250 jam," kata Hifni.
Setelah itu, aku Hifni, ia bertemu langsung dengan Oscar Matulessya, pria asal Manado yang tinggal di Amerika. Para calon siswa disuruh membayar 30 ribu dolar, disuruh transfer sebelum mereka berangkat ke AS. "Saya sudah lihat bukti pembayarannya," kata dia.