Sabtu, 30 Agustus 2025

Sering Mogok, Alasan Penarikan KRL Ekonomi Lintas Serpong dan Bekasi

PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 1 Jakarta, memiliki sejumlah alasan dalam penarikan dua rangkaian Kereta Rel Listrik

Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-inlihat foto Sering Mogok, Alasan Penarikan KRL Ekonomi Lintas Serpong dan Bekasi
/TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO
KRL Ekonomi jurusan Serpong Tanah Abang mengalami korsleting dan terbakar, Kamis (15/9/2011). Peristiwa itu terjadi di Stasiun Sudimara Serpong sekitar pukul 18.00. Akibat peristiwa ini lintas KRL Serpong Tanah Abang dan sebaliknya mengalami gangguan. Ratusan penumpang akhirnya harus rela nunggu berjam jam untuk perbaikan korsleting tersebut. Seperti di Stasiun Kereta Kebayoran Lama ini para penumpang akhirnya hurus berebut untuk naik kereta pengganti. (TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO)

Laporan wartawan wartakotalive.com, Theo Yonathan Simon Laturiuw

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 1 Jakarta, memiliki sejumlah alasan dalam penarikan dua rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) Ekonomi di lintas Serpong dan lintas Bekasi pada 1 April 2013 mendatang.

Kepala Humas Daerah Operasi 1 Jakarta, Agus Sutijono, mengungkapkan hal itu kepada wartakotalive.com di ruang kerjanya di Stasiun Jakartakota, Tamansari, Jakarta Barat, Rabu (20/3/2013).

Menurut Agus, beberapa alasan penarikan KRL Ekonomi tersebut, antara lain semakin seringnya KRL Ekonomi mogok dan kemudian jadi mengganggu seluruh perjalanan KRL di lintas Jabodetabek.

Agus mengatakan, sepanjang tahun 2012 ada sebanyak 1.228 perjalanan KRL Ekonomi yang mengalami gangguan.

Kemudian, dari 1.228 gangguan terhadap KRL Ekonomi, ternyata telah menyebabkan sebanyak 4.217 gangguan perjalanan KRL AC atau KRL Commuterline pada tahun 2012 lalu.

Belum lagi, kata Agus, KRL Ekonomi juga mengalami penurunan penumpang sejak tahun 2010 lalu.

Terhitung, tahun 2009 penumpang KRL Ekonomi ada sebanyak 86,6 juta penumpang, lalu tahun 2010 turun menjadi 69,3 juta penumpang, kemudian tahun 2011 turun lagi jadi 56 juta dan tahun 2011 merosot lagi jadi hanya 46,5 juta penumpang.

Selain itu, pihaknya pun kesulitan mendapatkan spare part KRL Ekonomi, sehingga kini perbaikan KRL Ekonomi itu dilakukan dengan cara menggunakan spare part bekas dari KRL Ekonomi yang sudah tidak beroperasi lagi.

"Jadi memperbaikinya itu dengan cara kanibal. Kalau satu kereta rusak, maka nanti akan dicari spare partnya dari kereta bekas yang sudah tak dipakai. Repot kan kalau begitu," ujar Agus kepada wartakotalive.com.

Menurut Agus, sulitnya spare part KRL Ekonomi itu, lantaran KRL Ekonomi yang beroperasi sekarang di lintas Jabodetabek adalah kereta buatan tahun 1974 dan spare partnya sudah tak diproduksi lagi.

"Jadi ya memang sudah harus diganti lah ini," kata Agus.

Klik:

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan