Jumat, 15 Mei 2026

Pengungsi Playboy Asal Afghanistan Ini Pacari 2 Wanita

Mereka membeli kentang, terigu, dan sayur-sayuran. Total belanjaan mereka Rp 800.000

Tayang:
Editor: Hendra Gunawan

TRIBUNNEWS.COM, BOGOR -- Lelaki ini bertubuh sedang, tingginya tak sampai 170 sentimeter. Kulitnya putih kekuningan, hidungnya mancung. Rahang-rahang di mukanya kelihatan kasar. Berewok tumbuh di dagunya. Dia memakai celana pendek dan jaket bertudung.

Namanya Nihrob (29), pengungsi asal Afghanistan. Dia sudah 2,5 tahun mengontrak di Desa Batulayang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Menunggu permohonan suakanya diterima Pemerintah Australia.

Sore itu, Jumat (24/10) Nihrob datang ke Toko Mitha di Pasar Festival Cisarua (Pafesta) bersama teman-temannya. Toko khusus menjual bahan makanan khas Timur Tengah. Mereka membeli kentang, terigu, dan sayur-sayuran. Total belanjaan mereka Rp 800.000.

"Heh, perempuan mana lagi yang kamu bawa kemarin," kata Lis Satyawati (26) menegur Nihrob. Yang ditegur hanya tertawa. "Yang mana?" jawab Nihrob. "Kamu jangan bohong, itu yang kemarin jalan berdua sambil gandengan," balas Lis. Nihrob tertawa lebar. "Istri itu," ujarnya.

"Terus yang kemarinnya lagi itu siapa?" lanjut Lis. "Istri juga itu. Tak apa-apa kan istri banyak. Tujuh juga boleh kok," kata Nihrob santai.

Lis geleng-geleng kepala sambil tertawa. "Itu pacar namanya, bukan istri," sela Karan (34), suami Lis, yang dari tadi mendengar percakapan mereka.

Rupanya Lis sudah dua kali memergoki Nihrob mengencani perempuan lokal. Keduanya gadis Sunda asal Desa Batulayang, Kecamatan Cisarua. Pertama Lis bertemu Nihrob sedang berdua di warung pecel lele di kawasan Pasar Cisarua. Ketika itu Nihrob dan perempuannya sedang menunggu makan. Mereka bercakap-cakap sambil Nihrob memegangi tangan perempuan lokal itu.

Lalu lain hari Lis memergoki Nihrob mengencani perempuan lagi. Tapi berbeda orang. Nihrob berjalan sambil bergandengan. Sesekali Nihrob memeluknya. "Playboy nih yang ini," kata Lis sambil menunjuk Nihrob. Nihrob cuma tersenyum sambil ngeloyor pergi. Di antara teman-temannya, hanya dia yang lancar berbahasa Indonesia.

Di sore hari pengungsi-pengungsi ini mulai mengalir ke jalan raya. Keluar dari kontrakan-kontrakan mereka di gang sempit yang jauh dari Jalan raya. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik ojek.

Beberapa keluar untuk membeli bahan makanan, sekadar berjalan-jalan, atau berpacaran. Sebagian besar memakai pakaian yang warnanya menubruk. Misalnya celana kotak-kotak hitam berpadu dengan baju pink dan kaca mata hitam.

Pengungsi yang memacari penduduk lokal biasanya membawa pacarnya ke sebuah toko besar yang menjual makanan khas timur tengah di kawasan Pasar Cisarua. Selain itu ada pula yang memilih berenang di sebuah hotel. Letaknya di Desa Tugu Utara. Tak jauh dari Pasar Cisarua. (Theo Simon)
 

Sumber: Warta Kota
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved