Kini Tak Ada Lagi Banjir Ikan di Bantaran Kali Ciliwung
Kelurahan Bukit Duri Jakarta Selatan kini menjadi wilayah langganan banjir terutama warga yang tinggal di bantaran Kali Ciliwung.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Adi Suhendi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kelurahan Bukit Duri Jakarta Selatan kini menjadi wilayah langganan banjir terutama warga yang tinggal di bantaran Kali Ciliwung.
Wilayah yang berada di daerah Tebet tersebut pertama kali diterjang banjir, November 1974. Toto Purnomo seorang warga yang sudah menetap puluhan tahun di Bukit Duri bercerita saat Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat melakukan tinjauan ke daerah rawan banjir tersebut.
"Sebelumnya daerah ini tidak pernah banjir. Dulu yang ada istilahnya banjir ikan. Jadi kalau mau masuk musim hujan banyak ikan mabuk karena air di hulu berubah," ungkap Toto di Kelurahan Bukit Duri pekan lalu, Kamis (22/1/2015).
Pada saat musim berganti dari musim kemarau ke musim penghujan, warga justru menuai untung. Banyak ikan-ikan di sungai dan mudah ditangkap karena perubahan air.
"Bisa sampai satu dua karung dapat ikannya," ucapnya.
Dikatakannya, lebar sungai pun tidak seperti saat ini. Lebarnya bisa mencapai 50 meter. Selain itu airnya masih bisa digunakan untuk MCK. Pohon-pohon di pinggir sungai juga masih banyak. Bukan hanya lebar, sungai masih dalam saat itu bisa satu batang bambu saja masih belum sampai ke dasar.
"Dulu airnya hijau, tidak seperti sekarang kecoklat-coklatan," ucapnya.
Pria yang menjadi pengurus Kampung Siaga Bencana tersebut menceritakan pemukiman mulai banyak berdiri di bantaran sungai sejak tahun 1980-an. Keadaan sungai pun mulai berubah. Sebelumnya air yang bisa digunakan untuk media transportasi menjadi dangkal dan sempit.
"Dulu sempat ada perahu mesin tetapi tidak lama rusak karena banyak sampah," ucapnya.
Pada banjir tahun 2014 lalu, jumlah pengungsi bisa mencapai 3.000 orang. Mereka ditampung di lima lokasi pengungsian yang telah disediakan. Di lokasi tersebut ketinggian banjir pernah mencapai 4 meter.
Dengan adanya program normalisasi sungai saat ini 247 rumah di Bukit Duri sudah didata. Jumlah tersebut diperkirakan masih terus bertambah karena pendataan masih terus dilakukan di wilayah yang menjadi langganan banjir di antaranya RW 11, RW 12, dan RW 13.
Lurah Bukit Duri Mardi Youce mengaku sudah mensosialisasikan program normalisasi tersebut kepada warga yang rumahnya akan dibongkar. Bahkan warga sudah menunggu realisasi pekerjaan fisiknya.
"Kita sudah sosialisasi dan terus lakukan pendataan. Sebagian inventarisir sudah selesai, warga juga sudah menunggu karena terlalu lama terkena banjir," ungkapnya.
Ke depan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menginginkan aliran Sungai Ciliwung yang melintasi Jakarta harus diselesaikan secara menyeluruh mulai dari hulunya. Ia berharap ke depan sungai di Jakarta bisa dijadikan wahana rekreasi seperti arung jeram. Tidak hanya itu, ia ingin bila nanti pinggir-pinggir sungai bisa ditanami pohon bambu.
"Pohon bambu ini kan banyak manfaatnya selain bagus untuk mencegah erosi. Bambunya pun bisa dimanfaatkannya," kata
Djarot saat meninjau Bukit Duri belum lama ini.
Dikatakannya, untuk mengurusnya pun mudah ada tokoh masyarakat seperti Toto yang bisa digerakkan supaya Sungai
Ciliwung bisa kembali berfungsi seperti era tahun 70-an.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/warga-saksikan-debit-air-di-proyek-revitalisasi-sungai-ciliwung_20141124_104935.jpg)