Jumat, 17 April 2026

Tersiksa Berdesak-desakan Naik Kereta Commuter Line Sampai Disebut 'Anker Bir'

'Anker Bir' sebutan untuk karyawan Jakarta yang saban hari tersiksa desak-desakan di Commuter Line. Ini kepanjangan 'Anker Bir'

Warta Kota/Alex Suban
Para penumpang KRL Commuterline rute jurusan Depok berusaha memasuki kereta di Stasiun Sudirman, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (3/7/2014) sore. Semakin tingginya peminat transportasi massal membuat para penumpang rela berdesakan saat pulang kerja. (Warta Kota/alex suban) 

TRIBUNNEWS.COM -Kereta api yang disebut-sebut sebagai moda tranportasi ”terjadwal” juga tak selamanya menolong kaum pekerja.

Sudah sering telat, berdesak-desakan lagi di jam kerja. Sampai ada istilah 'Anker Bir' (Anak Kereta Berdiri), sebutan untuk karyawan yang saban hari naik kereta tapi nggak pernah kebagian tempat duduk.

Kisah kereta telat selalu saja menjadi menu sehari-hari. ”Kalau sudah berangkat pagi, tetapi kereta datang telat, tetap saja saya telat sampai di kantor,” kata Sari (35), karyawati di kawasan Sudirman.

Senin pagi itu, Sari yang tinggal di Depok, Jawa Barat, kembali harus mengalami keterlambatan kereta. Mestinya, kereta tujuan Stasiun Sudirman berangkat dari Stasiun Manggarai pukul 08.45, tetapi kereta itu baru tiba pukul 08.50 dan berangkat pukul 08.52.

”Saya masuk pukul 09.00, dan pastinya saya telat. Apalagi kereta sudah sesak sekali. Mendingan nunggu kereta selanjutnya,” kata Sari.

Kepadatan penumpang kereta di pagi hari memang bukan main. Apalagi jika kereta terlambat tiba, akibatnya penumpang pun menumpuk.

Para penumpang tak lagi hanya berdesakan masuk gerbong. Namun, mereka juga memaksakan diri dengan mendorong-dorong penumpang yang sudah di dalam gerbong agar tubuh mereka dapat menyelip masuk di antara penumpang yang berdiri berimpitan.

”Dorong saya, dorong saya. Dorong terus,” kata seorang penumpang dengan napas terengah-engah.

Ia berupaya menggapai pintu masuk gerbong dengan meminta pertolongan kepada penumpang yang masih berdesakan di peron. Ia ingin tubuhnya segera bisa masuk ke dalam gerbong. Umumnya penumpang sudah saling mengerti bahwa agar dapat masuk gerbong yang sudah padat penumpang, butuh bantuan dorongan oleh penumpang lain yang masih berdiri di peron.

Saking padatnya penumpang, ketika kereta berangkat pun para penumpang yang ada di gerbong sampai tak bergerak karena nyaris tak ada celah tersisa. Pemandangan ini sudah menjadi pemandangan umum pagi hari di stasiun transit seperti Stasiun Manggarai yang menjadi stasiun transit penumpang dari Bogor, Depok, Bekasi, ke tengah kota Jakarta.

Sebaliknya, Stasiun Tanah Abang dan Stasiun Sudirman yang menjadi stasiun tujuan di pagi hari akan berubah menjadi lautan manusia pada sore hari. Di peron 6 Stasiun Tanah Abang tempat keberangkatan kereta tujuan Serpong dan beberapa stasiun di Tangerang, contohnya, penumpang harus antre di lantai 2 untuk masuk ke peron.

Sementara lebar peron 6 Stasiun Tanah Abang itu terbilang sempit, hanya 4 meter. Ketika sedang padat penumpang, setiap penumpang harus memasang kaki yang kuat agar tak terdorong oleh penumpang lain dan terjatuh ke rel. (MDN/DNA/B09/B10)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved