35 Tahun Berjualan Timun Suri, Yadi Ingin Rasakan Ibadah Haji
Selama Ramadan, hampir sebulan penuh pria paru baya bernama Yadi rela meninggalkan kampung halaman, istri dan anaknya di Karawang
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Selama Ramadan, hampir sebulan penuh pria paru baya bernama Yadi rela meninggalkan kampung halaman, istri dan anaknya di Karawang, Jawa Barata demi menjual timun suri di Kalimalang, Jakarta Timur.
Dengan bekal seadanya, seperti meja kayu, terpal, karpet, jaket serta radio kecil, Yadi bersama empat pekerjanya berangkat dari Tanjungpura, Karawang Barat ke Kalimalang. Disana mereka membangun dua lapak sederhana baik di jalur yang menuju Jakarta maupun Bekasi.
Hal ini sudah dilakoni Yadi bersama empat pekerjanya sejak 35 tahun lalu. Selain berjualan di Kalimalang ia juga sempat berjualan di Kalibata, Jakarta Selatan. Sementara itu, dihari-hari lainnya Yadi juga menjual buah-buahan di Pasar Karawang. Ia berjualan timun suri di Kalimalang, hanya saat bulan puasa tiba.
Berbagai suka-duka ditemui Yadi selama menjajakan timun suri. Ia rela menjajakan timun suri selama 24 jam, bahkan ia juga tidur di lapak bersama tumpukan timun suri.
Debu, angin malam, hingga gigitan nyamuk sudah biasa bagi ayah empat anak tersebut. Semuanya dilakoni demi memberi nafkah bagi anak istri dan menyekolahkan empat anaknya.
"Sudah biasa tidur bareng timun suri, biasa juga digigit nyamuk, yah namanya nyari duit kan. Kalau mandi sih seingetnya aja, sehari sekali. Biasanya mandi di pasar atau masjid dekat sini," ucap Yadi yang sama sekali tak ingat tahun kelahirannya.
Bahkan karena sudah sejak tahun 1980-an berjualan di Kalimalang, Yadi sudah akrab dengan warga sekitar. Tak jarang, Yadi membagi-bagikan timun suri dagangannya ataupun memberikan bonus pada warga sekitar yang sudah menjadi langganannya.
Tahun ini, Yadi mengaku keuntungan yang didapatnya menurun dibandingkan tahun lalu. Hal ini karena harga timun suri yang mahal dan modal yang dikeluarkan pun besar.
"Tahun ini harga timun suri naik ketimbang tahun lalu, naik Rp 2.000. Saya jualan mulai harga Rp 5.000-Rp 30.000 per buahnya," ucap Yadi.
Walaupun tidak terlalu banyak saingan sesama penjual di timun suri, namun tetap saja omzet penjualannya tidak seramai dulu. Menurutnya memang di saat puasa, harga buah-buahan termasuk timun suri cenderung mahal.
Alhasil modal yang dikeluarkan untuk berbelanja buah berwarna kuning ini pun besar, serta banyak pedagang yang tidak mau berjualan karena harus mengeluarkan modal besar.
"Saya sekali belanja modalnya Rp 7 juta, itu untuk 2 ton timun suri, bayangin saja. Biasa sehari laku 400 buah. Kegedean modal, jadi banyak pedagang yang tidak jualan karena takut rugi," katanya.
Selama 35 tahun berjualan timun suri, Yadi bersyukur ia bisa membesarkan anak-anaknya. Anak pertama sudah menikah dan berjualan bakso di Karawang. Anak kedua kerja, anak ketiga bisa lulus sarjana dan kini menjadi pengajar, anak keempatnya masih sekolah di bangku SMA.
Harapannya pun tidak muluk-muluk, bisa menyekolahkan anak ketiganya hingga sarjana saja Yadi sudah bersyukur. Ia berharap anak keempatnya juga bisa sukses dan menyandang gelar sarjana.
"Anak saya ada yang sarjana saja sudah syukur. Maunya si kalau ada duit anak yang paling kecil dikuliahin juga. Sama tiap tahun saya selalu nabung biar bisa naik haji. Itu harapan saja," tambahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/yadi-timun-suri_20150719_141242.jpg)