Polemik Kalijodo

Kehidupan Malam di Kalijodo tak Pengaruh bagi Meliana

Warga Kalijodo direlokasi ke dua lokasi rumah susun sewa milik pemerintah yakni Rusunawa Marunda dan Rusunawa Pulogebang.

Editor: Gusti Sawabi
robertus belarminus/kompas.com
Taman RPTRA di antara Blok H dan Blok G Rusun Pulogebang, Jakarta Timur. Dua blok tersebut rencananya akan dihuni warga Kalijodo. Jumat (19/2/2016) 

Tribunnews.com, Jakarta - Satu persatu warga Kalijodo angkat kaki dari tempat tinggal mereka. Tempat tinggal warga Kalijodo yang dulu bersebelah-sebelahan dengan kafe hiburan malam dan tempat prostitusi mau diratakan pemerintah.

Warga Kalijodo direlokasi ke dua lokasi rumah susun sewa milik pemerintah yakni Rusunawa Marunda dan Rusunawa Pulogebang. Baru melihat rusun, banyak keluhan disampaikan warga.

Sejumlah poin utamanya adalah mengenai lapangan kerja, bayar sewa rusun, tempat relokasi jauh, sampai masalah sosial. Kebingungan akhirnya melanda. Mau tak mau, terpaksa nurut pindah, takut karena akan digusur.

Penertiban ini telah mengusik kenyamanan selama berpuluh-puluh tahun. Sudah punya rumah, punya mata pencaharian, dan beranak cucu di sana telah membuat warga berat hati untuk pindah.

Meliana (53) misalnya. Warga RT 07 RW 10 itu mengaku terpaksa pindah. Kalau boleh memilih, ia lebih senang tinggal di Kalijodo.

"Jelas beda, lebih enak tinggal di sana (Kalijodo)," kata Meliana, kepada Kompas.com, di Rusun Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur beberapa waktu lalu.

Kehidupan malam di Kalijodo, lanjut dia, tak membuatnya risih. Apalagi, di wilayah Kelurahan Angke, hanya ada satu kafe hiburan malam, selebihnya adalah rumah warga. Meskipun, jaraknya hanya beberapa puluh meter dengan tempat hiburan malam Kalijodo di wilayah Penjaringan, Jakarta Utara.

"Biar begitu kita enggak ikut arus. Sendiri-sendiri. Kita enggak pernah terpengaruh, enggak ada keluarga saya yang ikut-ikutan," kata Meliana.

Hal yang sama diungkapkan Eci (52) warga RT 07 RW 10 lainnya. Eci mengaku, kepindahan ini membuat jarak tempat kerja menjadi amat jauh. Suaminya, bekerja di daerah Angke. Sedangkan dirinya bekerja di Puri Kembangan. Eci bingung bagaimana nantinya pergi bekerja.

"Anak saya dua juga masih tinggal sama saya. Kalau ke sini kerja nya juga jadi jauh. Belum lagi di sini mesti bayar. Semua pastinya ngeluh begini," kata Eci.

Minta disatukan

Warga lain tak kalah bingung. Ada yang terpaksa tolak sementara waktu untuk tinggal di rusun. Pertama karena belum ada kata sepakat untuk bersama-sama pindah dari warga Kalijodo di wilayah Penjaringan, Jakarta Utara.

Selain itu soal jarak yang jauh. Sukinem (67), warga RT 05 RW 05 akhirnya cari kontrakan lain di sekitar Kalijodo. Ia belum mau menempati rusun kalau tidak direlokasi di satu tempat yang sama.

"Maunya gitu, kalau semua setuju masuk rusun bareng-bareng, saya mau. Satu blok gitu dari sini semua," kata Sukinem (67), di Kalijodo Jakarta Utara, Sabtu (20/2/2016).

Sukinem juga merasakan adanya penolakan warga Rusun Marunda bagi warga Kalijodo. Di samping itu, rusun yang ditawarkan jadi tempat relokasi baginya jauh.

"Di Marunda juga di TV bilangnya enggak mau nerima kita kan. Kayak orang Kalijodo bukan manusia saja," ujar perempuan asal Jogjakarta itu.

Sebagian warga Kalijodo masih ada yang bertahan di tempat tinggal mereka. Ini dilakukan sambil melakukan upaya hukum bersama pengacara warga. Sementara puluhan lainnya mulai mendatangi rusun.

Para calon penghuni rusun itu akan menghadapi kehidupan dalam suasana baru dan berbeda dari Kalijodo yang biasa mereka huni.

( Robertus Belarminus)

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved