Breaking News:

Jakpro Pastikan Proyek Pembangunan LRT Jalan Terus

PT Jakarta Propertindo memastikan pembangunan Light Rail Transit sesuai jadwal. Berbagai kendala mampu ditangan BUMD DKI Jakarta itu.

TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Petugas mendampingi wartawan melihat contoh sistem transportasi Light Rail Transit (LRT) di PT Len Industri (Persero), Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Selasa (7/6/2016). Di tahun 2016, PT Len Industri dipercaya menggarap proyek pembangunan Automated People Mover System (APMS) Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan LRT Ibu Kota Jakarta, LRT Intercity Jakarta-Jabodetabek, dan Palembang. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dennis Destryawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Jakarta Propertindo memastikan pembangunan Light Rail Transit sesuai jadwal. Berbagai kendala mampu ditangan BUMD DKI Jakarta itu.

Pascapeluncuran proyek LRT Jakarta pada 22 Juni 2016 lalu, Presiden Direktur PT Jakpro, Satya Heraghandi, mengatakan pihaknya sudah mengerjakan serangkaian kegiatan persiapan pembangunan.

Satu di antaranya design in built telah diselesaikan terlebih dahulu agar saat memulai pembangunan fisik, kontraktor tidak lagi mengalami kesulitan. 

Sehingga pada Agustus 2018, LRT koridor Kelapa Gading-Velodrome bisa beroperasi menyusul pelaksanaan Asian Games 2018.

"Persiapan kontruksi LRT Jakarta terus berjalan. Saat ini clearing median jalan pembangunan infrastruktur dan depo di Velodrome. Kami terus bergerak dan masih on schedule," ujar Satya, Jumat (19/8/2016).

Pembangunan fisik akan dilakukan pada Oktober 2016 setelah proses lelang dengan sistem beauty contes bagi kontraktor BUMN sedang berjalan saat ini rampung.

Menurut Satya, sudah ada sembilan kontraktor BUMN yang akan mengikuti lelang beauty contest. Ia menargetkan paling lambat akhir September 2016 sudah ada pemenangnya.

Sambil memproses lelang tersebut, Satya sedang mempercepat keputusan presiden yang mengatur bila BUMD dapat menunjuk BUMN sebagai mitra pengerjaan LRT.

"Kami tidak mau pembangunan LRT ini bernasib seperti monorel di Jakarta. Jadi kami harus menentukan designya seperti apa yang sudah dipakai dan teruji di negara-negara Eropa," terang dia.

Terkait pendanaan dan kajian kelayakan, Satya tidak terlalu khawatir. PT Jakpro mempunyai alternatif pendanaan melalui pinjaman perbankan, meski biaya lebih besar untuk bunga 10 persen setiap tahunnya. 

Satya berharap agar dana yang saat ini sedang dibahas lantaran ada relokasi angaran kegiatan komersil ke LRT dapat dirampungkan bersamaan dengan pembangunan fisik.

"Kami memiliki jaminan uang dari pemerintah yang bisa kami pakai untuk meminjam uang di perbankan. Kami pastikan semua studi kelayakan sudah selesai, baik lingkungan atau kajian kelayakan lalu lintas," imbuh dia.

Penulis: Dennis Destryawan
Editor: Y Gustaman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved