Selasa, 12 Mei 2026

Ternyata Ini Bahaya Tak Terduga yang Ditimbulkan Tikus Got

Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan, tujuan program pembasmian tikus ini adalah untuk...

Tayang:
Penulis: Abdul Qodir
Editor: Rendy Sadikin
ISTIMEWA

Laporan Wartawan TRIBUNNEWS.com, Abdul Qodir

TRIBUNNTEWS.COM, JAKARTA - Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan, tujuan program pembasmian tikus ini adalah untuk menjaga kebersihan, kesehatan dan preventif terhadap instalasi publik seperti kabel, di wilayah ibukota.

Menurutnya, tikus selain menjadi hama, juga menjadi penyebab sejumlah penyakit pada manusia.

Daging tikus yang diolah menjadi makanan bisa menyebabkan penyakit pes.

Dan manusia yang terkena urine atau kencing tikus bisa berpotensi terkena penyakit leptospirosis.

Ia menceritakan, munculnya ide pembasmian tikus untuk wilayah ibukota ini tidak terlepas pengalaman Kepala Bagian Tata Usaha di Biro Umum Pemprov DKI Jakarta, Bety Rahmawati, digigit tikus pada saat bekerja pada Mei 2015 dan pengalaman pribadinya belum lama ini.

"Bu Bety ini cerita, sehabis sholat zuhur dan pakai sandal, tiba-tiba di kursinya keluar tikus gede dan langsung gigit. Dan dia langsung dibawa ke dokter," ujar Djarot.

Setelah kejadian itu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama bersama Djarot menginstruksi upaya kerja bakti dan pembasmian tikus di lingkungan perkantoran pemprov.

Djarot sendiri mengaku pernah beberapa kali mobil yang ditumpanginya melindas tikus di jalan, di antaranya pada saat Safari Ramadan 2016, belum lama ini

"Kemudian waktu Safari Ramadhan di salah satu perkampungan, sehabis Salat Taraweh, pas saya lewat sempat nabrak tikus gede banget. Awal tak pikir kucing, ternyata tikus besar," ujarnya.

Djarot mengakui dirinya belum memperoleh data riil dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta perihal warga yang menjadi korban gigitan tikus.

Namun, ia meyakinkan program ini semata untuk kebersihan, kesehatan dan antisipasi perusakan instalasi publik oleh tikus.

Ia juga menyampaikan, program ini dilakukan juga dikarenakan punahnya hewan predator dari hama tikus di ibukota sehingga makin bertambahnya populasi hewan pengerat tersebut setiap harinya.

Oleh karena itu, Djarot tidak melihat upaya pembasmian tikus ini akan merusak ekosistem yang ada.

"Di kota Jakarta ini hewan predatornya sudah tidak ada. Di desa atau di sawah predatornya juga hampir tidak ada. Ular saja pada ditangkapi dan dijual. Makanya ada gerakan basmi tikus juga di sawah-sawah. Kemudian burung hantu ini juga tidak ada. Oleh sebab itu, tikus ini harus kita berantas," kata Djarot.

"Kemudian burung hantu yang juga predator tikus juga sudah habis. Kalau di kota predatornya tikus siapa, kucing? Lha wong kucing sekarang nggak berani sama tikus," sambungnya.

Kepala Biro Umum Pemprov DKI Jakarta, Agustino Darmawan saat ditemui oleh Tribun membenarkan kejadian anak buahnya, Bety Rahmawati, yang digigit tikus besar pada saat bekerja di Gedung G Mei 2015 lalu.

"Memang ada pegawai anak buah saya sendiri kakinya digigit tikus. Tikusnya segede kucing," kata Agustino.

Sejak saat itu, dirinya menginstruksikan dilakukannya kerja bakti dengan sasaran pembasmian tikus setiap lantai per minggu di 24 lantai Gedung Blok G. Hasilnya mencengangkan, lebih 500 tikus ditemukan.

"Program kami saat itu dilakukan kerja bakti dan pembasmian hama tikus setiap minggu satu lantai, saat itu ada 52 minggu. Berarti kalau ada 24 lantai, 24 minggu. Dan ini tidak pernah putus. Jadi, jangan sampai tikus betah di kantor," kata Agustino.

"Sekali kerja bakti dan razia tikus bisa dapat sampai 30 tikus di satu lantai," sambungnya.

Menurutnya, saat itu pihaknya hanya melakukan upaya kerja bakti dan pembasmian tikus.

Sementara, upaya pencegahan hama tikus datang kembali ke lingkungan kantor Pemprov DKI dilakukan oleh pihak swasta melalui lelang.

Pihak swasta tersebut melakukan pencegahan hama tikus dengan melakukan penyemprotan atau vaughing dengan cairan khusus.

Oleh karena itu, anggaran pembasmian hama tikus di lingkungan Pemprov DKI Jakarta mencapai Rp200 juta. Dan program tersebut masih berjalan hingga saat ini.

"Sekarang sudah menurun jumlah tikusnya, tapi dilakukan pencegahan. Kerja bakti berhenti dahulu, sampai nanti diminta lagi oleh Djarot," jelasnya.

Sekedar informasi, Djarot Saiful Hidayat, mencetuskan program "Gerakan Basmi Tikus" di wilayah ibukota dengan menggandeng partisipasi warga.

Nantinya, warga diberi insentif Rp20 ribu untuk seekor tikus yang berhasil ditangkap hidup atau mati.

"Yang kita buru adalah tikus-tikus got, yang gede-gede itu lho, bukan tikus rumah. Kalau tikus di rumah tanggung jawab sendiri dong," kata Djarot saat mengunjungi revitalisasi Pasar Rumput, Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu (19/10/2016).

Djarot mengatakan, dirinya telah menggelar rapat koordinasi bersama kepala dinas terkait untuk pematangan program ini.

Nantinya, pelaksanaan program ini akan melibatkan kerjasama antara Dinas Kebersihan, Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PSSU) atau "Pasukan Oranye", Dinas Pertamanan dan Pemakaman, kelurahan dan RT/RW.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved