Rabu, 20 Mei 2026

Elang-elang Bondol di Pulau Kotok Besar Kini Punya Rumah Baru

"Kawasan Pulau Kotok ini jadi pusat konservasi khusus yang bermanfaat bagi elang-elang ini"

Tayang:
Penulis: Choirul Arifin
TRIBUNNEWS/CHOIRUL ARIFIN
Sekumpulan elang bondol di Pusat Konservasi Elang Bondol Pulau Kotok Besar, Kepulauan Seribu, Jakarta, Selasa (10/1/2017). Pusat konservasi ini telah merawat lebih dari 200 elang bondol dan elang laut dan telah melepasliarkan lebih dari 70 ekor elang bondol ke habitat aslinya di alam bebas di gugusan pulau di Kepulauan Seribu. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Elang bondol (Haliastur indus) yang selama ini dikonservasi di Pulau Kotok Besar, Kepulauan Seribu, Jakarta, kini punya rumah baru setelah rumah lama mereka berupa kandang besar yang terbuat dari susunan bambu hancur berantakan diterpa angin puting beliung yang melanda pulau ini.

Kandang baru untuk spesies burung pemangsa dari famili Accipitridae ini kini terbuat dari besi galvanis yang dilengkapi dengan jaring.

Kandang anyar ini merupakan sumbangsih dari PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) III wilayah Jawa Bagian Barat (Jawa Barat, Jakarta, dan Banten).

Penyerahan donasi kandang baru tersebut diserahkan langsung Manajer Marketing Pertamina MOR III Jumali kepada pengelola Pusat Konservasi Elang Bondol dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN) Benvica disaksikan Wakil Bupati Kepulauan Seribu dan Kepala SPTN Wilayah III Pulau Pramuka Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, Kusminardi di Pulau Kotok Besar, Selasa (10/1/2017).

Kandang baru dari baja galvanis untuk konservasi elang bondol
Kandang baru dari baja galvanis untuk konservasi elang bondol di Pulau Kotok Besar

"Di DKI Jakarta kita sudah susah mencari elang Bondol. Bisa sih kita menemukannya di Pasar Pramuka, tapi diperjual belikan. Padahal ini hewan yang dilindungi," ungkap Jumali.

"Kami berusaha membantu pusat konservasi ini dari semula kandang dari bahan bambu menjadi kandang dari baja galvanis. Kami juga membantu dengan mendirikan clinic center untuk bantu elang bondol berkembang dengan lebih baik," ujarnya.

Pihaknya juga membantu membiayai pendirian pusat informasi yang ke depannya bisa diakses oleh siapa saja yang tertarik mempelajari kehidupan elang bondol dan kegiatan konservasinya.

Benvica dari Jakarta Aminal Aid Network (JAAN) mengatakan, kandang lama untuk konservasi elang bondol di pulau ini sudah tidak memadai lagi.

Karenanya, pihaknya berterima kasih sekali ketika Pertamina MOR III membantu mendonasikan dana community social responsibility (CSR)-nya untuk merehabilitasi kandang elang bondol.

Benvica menjelaskan, sejak 2005 pihaknya telah merehabilitasi sebannyak 200 ekor lebih elang bondol dan elang laut dan selama ini telah melepasliarkan 70-an lebih ekor elang bondol ke alam bebas dan kembali hidup di habitat alami mereka di gugusan pulau di Kepulauan Seribu.

"Kawasan Pulau Kotok ini jadi pusat konservasi khusus yang bermanfaat bagi elang-elang ini yang juga akan memberi kesejahteraan kepada masyarakat Kepulauan Seribu. Terima kasih pada Pertamina yang membantu rehabilitasi kandang dari semula kayu jadi kandang besi galvanis dan bantuan enam kandang, dua diantaranya untuk sanctuari," ujarnya.

Kepala SPTN Wilayah III Pulau Pramuka Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, Kusminardi mengatakan, kandang-kandang untuk rehabilitasi elang di pulau ini sempat roboh ertimpa angin ribut.

Hal itu membuat pihaknya sempat kerepotan memindahkan elang-elang tersebut yang jumlahnya cukup banyak ke tempat sementara.

Pihaknya tetap melakukan monitoring terhadap elang-elang yang sudah dilepasliarkan.

Elang-elang tersebut hidup menyebar di sejumlah gugusan pulau di Kepulauan Seribu seperti di Pulau Opak, Pulau Jagung. "Penyebarannya sangat besar dan luas," sebutnya.

Pelepasliaran 2 elang bondol

Bersamaan dengan penyerahan CSR kandang baru untuk elang bondol, juga dilakukan pelepasliaran dua ekor elang bondol berkelamin jantan.

Dua ekor elang ini diberi nama Ganteng dan Sabar dengan usia sekitar 7-8 tahun hasil rampasan Balai Konservasi dan Sumber Daya alam dari masyarakat beberapa tahun 2011.

Pelepasliaran elang bondol
Pelepasliaran Sabar dan Ganteng, dua ekor elang bondol jantan di Pulau Kotok Besar, Selasa (10/1/2017). Keduanya merupakan elang hasil sitaan dari masyarakat tahun 2011.

Bulan April 2016 lalu, saat meresmikan Pusat Konservasi Elang Bondol di Pulau Kotok Besar, Presiden Jokowi juga melepasliarkan empat ekor elang bondol ke alam bebas.

"Empat ekor elang yang dilepasliarkan April kemarin itu, dua diantaranya masih terlihat mengitari Pulau Pramuka, Pulau Macan dan Pulau Panjang," kata Kusminardi.

"Ini keberhasilan tak terkira dari teman-teman di JAAN yang telah mengasuh elang elang yang sebagian besar adalah hasil sitaan dari teman teman BKSDA DKI Jakarta," jelasnya.

Kandang pra-pelepasan elang bondol
Kandang pra-pelepasan elang bondol di bibir pantai Pulau Kotok Besar, Kepulauan Seribu. Dua ekor elang bondol jantan, Sabar dan Ganteng, dilepasliarkan dari kandang ini, Selasa (10/1/2017).

Pusat Konservasi Elang Bondol di Pulau Kotok Besar diresmikan pertama kali oleh Menteri Kehutanan MS Kaban.

Lalu Presiden Jokowi pada 14 April 2016 meresmikan Pulau Kotok Besar sebagai pusat suaka elang bondol.

Pulau Kotok Besar sendiri dimiliki oleh tiga pihak dengan tiga peruntukan berbeda. Bagian timur untuk konservasi elang bondol, bagian tengah untuk wisata, dan bagian barat untuk tempat peristirahatan pribadi.

"Sisi timur pulau ini dimiliki Pak Kiki Aji, warga Jakarta," ujar seorang petugas.

Pasokan listrik di pulau ini mengandalkan dari genset dan sel solar. Untuk pendaratan, pusat konservasi ini telah dilengkapi dengan dermaga.

Pengunjung yang ingin melihat dari kegiatan konservasi elang bondol di pulau ini sangat dibatasi dan tidak diperbolehkan merokok di sekitar kandang dan tidak boleh berisik.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved