Breaking News:

Frekuensi KA Bandara Ditambah, Jeda Jarak KRL Lintas Duri-Tangerang Jadi 30 Menit

Saat ini headway KRL Tangerang-Duri menjadi 30 menit sebagai konsekuensi dari bertambahnya frekuensi perjalanan KA Bandara

Editor: Sanusi
Warta Kota/Nur Ichsan
DIOPERASIKAN - Kereta api commuterline bersiap mengangkut calon penumpang di Stasiun Tanahtinggi, Kota Tangerang, Selasa (16/5). Stasiun Tanahtinggi, bersama Stasiun Taman Kota dan Stasiun Grogol, mulai hari ini dioperasikan untuk umum di jalur Stasiun Duri-Tangerang. Warta Kota/nur ichsan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kekesalan komunitas KRL Mania perihal kondisi KRL lintas Duri-Tangerang saat ini seolah telah sampai puncaknya setelah mereka mendatangi kantor Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Kamis (5/4/2018).

Kedatangan komunitas tersebut tak lain untuk meminta Kemenhub mengembalikan jeda jarak (headway) KRL lintas Duri-Tangerang menjadi 15 menit seperti sebelumnya.

Saat ini headway KRL Tangerang-Duri menjadi 30 menit sebagai konsekuensi dari bertambahnya frekuensi perjalanan kereta Bandara Soekarno-Hatta.

"Kami minta headway kembali 15 menit seperti sebelumnya, jangan 30 menit. Kami karyawan pagi-pagi kesusahan karena KRL datangnya lama, banyak yang enggak bisa naik, selalu penuh," kata Wati, salah satu anggota KRL Mania, saat bertemu jajaran Direktorat Jenderal Perkeretaapian di gedung Kementerian Perhubungan, Jakarta Pusat.

Tidak hanya itu, imbas lain yang dirasakan Wati dan penumpang lain KRL adalah semakin lama berdesak-desakan menunggu kereta yang datang di Stasiun Duri.

Akibat kepadatan yang cukup parah, beberapa waktu lalu sempat viral di media sosial sebuah video yang menunjukkan para penumpang di sana menaiki eskalator melawan arah.

Wati pun melanjutkan bahwa penambahan jumlah gerbong dari 8 menjadi 12 tidak efektif. Sebab, tidak efektif. Hal itu sudah dibuktikan dengan masih banyak penumpang yang tak terangkut karena sembari menunggu KRL, penumpang terus berdatangan ke stasiun.

Tak adil

Di sisi lain, Koordinator Komunitas KRL Mania Nurcahyo menilai, penambahan frekuensi kereta bandara yang kemudian mengorbankan jumlah perjalanan KRL lintas Duri-Tangerang adalah satu hal yang tidak adil bagi para penumpang KRL.

"Ini terlalu dipaksakan, penumpangnya juga kan enggak banyak, tetapi malah mengorbankan ribuan penumpang yang setiap hari naik komuter," ucap Nurcahyo kepada Kompas.com, Rabu (4/4/2018).

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved