Adnan Anwar Sarankan Agar Perguruan Tinggi Melindungi Mahasiswanya dari Infiltrasi Paham Radikal

Paham radikalisme saat ini telah masuk ke dalam berbagai ruang-ruang intelektual baik melalui kampus maupun aktfiitas akademis lainnya.

Adnan Anwar Sarankan Agar Perguruan Tinggi Melindungi Mahasiswanya dari Infiltrasi Paham Radikal
ist
Adnan Anwar 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Instruktur Pendidikan Kader Penggerak Nahdatul Ulama (PKPNU) Nasional, Dr. Adnan Anwar, MA., mengatakan bahwa untuk melawan paham radikalisme ini kaum intelektual milenial harus bisa membentengi dirinya dengan memperkuat jati diri ke-Indonesiaannya. Sehingga ada kebanggaan nasional terhadap terhadap negara dan bangsa ini.

“Kita harus berkaca pada sejarah negara kita yang plural ini yang telah didirikan oleh para pendahulu kita ini dengan keadaan beragam. Bahkan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia sudah terbukti menjadi menjadi common ideology yang sampai saat ini bisa menyatukan bangsa kita yang bergaam ini, baik beragam suku   beragam wilayah, Bergama etnis dan agama,” ungkap Dr. Adnan Anwar, Rabu (11/9/2019).

Bahkan Pancasila ini menurutnya juga sudah menjadi kajian di seluruh dunia baik di Amerika, Eropa dan bahkan di negara-negara Arab yang menyatakan bahwa Pancasila ini bisa menjadi ideologi alternatif dunia.

Karena salah satu kekuatan Indonesia itu ada di Pancasila ini. Dan kebanggaan terhadap nasionalisme bangsa ini harus dimunculkan kepada para generasi intektual milenial.

“Para pemimpin negara, pemimpin ormas ataupun pemimpin Perguruan Tinggi harus rajin membangkitkan kebangaan nasional kepada jajaran dibawahnya bahwa kita (Indonesia) ini jauh lebih baik dibandingkan dengan negara yang lain. Itulah salah satu cara untuk menghindari intoleransi dan takfiri,” kata Tokojh Muda NU ini.

Lebih lanjut Adnan menjelaskan, agar intelektual milenial tidak mudah terinfiltrasi paham radikalisme mereka harus mengikuti berbagai macam kegiatan yang positif dan sifatnya membangun karakter atau personal building.

“Kalau mereka tidak punya banyak aktivitas atau menyendiri, bukan tidak mungkin mereka akan mudah terpengaruh propaganda dari orang yang mengajarkan ide-ide tentang intoleransi itu. Jadi perlu diperbanyak media untuk beraktivitas atau berekspresi di ingkungan kampus itu” jelas mantan Wakil Sekjen Pengurus Besar NU itu.

Menurut Adnan jika para intelektual milenial ini sampai terinfiltrasi paham radikalisme maka negara ini bisa saja hancur karena pemikiran mereka yang desktruktif terhadap negara. Dengan paham takfiri maka orang kafir dianggap halal darahnya, hal ini tentu saja sangat berbahaya karena dapat membunuh orang hanya karena berbeda paham.

“Untuk itu pemerintah jangan ragu-ragu. Sudah benar itu beberapa kasus kampus yang memecat mahasiswa itu tentunya sudah sangat tepat sekali. Kalau bibit-bibit virus seperti  ini dibiarkan, tentunya akan sangat membahayakan masa depan negara kita sehingga negara kita tidak bisa mencapai satu abad yang pertama guna menghadapi abad yang berikutnya atau abad kedua. Jadi harus berani ngotot, pemrintah tidak usah ragu-ragu untuk memberantas hal-hal yang bertentangan dengan ideologi bangsa” urainya.

Untuk itu Adnan menyarankan agar Perguruan Tinggi melindungi mahasiswanya dari infiltrasi paham radikal dan takfiri. Hal ini bisa dilakukan dengan kerjasama dengan lembaga terkait seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) atau Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) untuk penguatan ideologi kebangsaan.

Halaman
12
Editor: Toni Bramantoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved