Virus Corona

Di Tengah Merebaknya Corona, Kualitas Udara Jakarta Membaik

Kualitas udara Provinsi DKI Jakarta cenderung membaik dalam beberapa hari terakhir.

Di Tengah Merebaknya Corona, Kualitas Udara Jakarta Membaik
WARTA KOTA/WARTA KOTA/Nur Icshan
TETAP RAMAI - Beginilah suasan sejumlah ruas jalan di ibukota yang tetap ramai oleh lalu lalang kendaraan warganya yang tetap beraktifitas keluar rumah meski terancam bahaya Virus Corona, Senin (23/3/2020). Mereka tampaknya tak menghiraukan seruan gubernur untuk tetap tinggal di rumah serta menghentikan sementara kegiatan perkantoran untuk mencegah penyebaran wabah Covid-19. WARTA KOTA/Nur Icshan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kualitas udara Provinsi DKI Jakarta cenderung membaik dalam beberapa hari terakhir.

Hal ini tidak terlepas dari mitigasi yang dilakukan guna mencegah penularan virus corona di Jakarta.

Kebijakan itu diantaranya memberlakukan kerja di rumah alias work from home (WFH) bagi perusahaan - perusahaan, kementerian/lembaga, hingga meniadakan kegiatan belajar mengajar di kelas.

Baca: Minta BUMN Tidak Menyerah Hadapi Wabah Covid-19

Berkenaan dengan hal tersebut, lalang kendaraan yang melintas di jalan protokol menjadi kian sedikit.

Namun perbaikan kualitas udara tidak hanya dipengaruhi oleh minimnya kendaraan yang melintas. Tapi juga pengaruh curah hujan dan arah angin.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih.

"Hujan yang turun di Jabodetabek juga turut membantu tercucinya atmosfer dari polusi," kata Andono saat dikonfirmasi, Rabu (25/3/2020).

Lebih lanjut Andono menjelaskan berdasarkan pemantauan di lima Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU), menunjukkan adanya perbaikan kualitas udara.

Baca: TPU Tegal Alur dan Pondok Ranggon Jadi TPU Pasien Corona: Syarat Hingga APD Bagi Petugas Makam

Utamanya perihal penurunan konsentrasi Particulate Matter (PM) 2,5 selama penerapan kebijakan bekerja, belajar dan beribadah di rumah. PM 2,5 sendiri merupakan partikel halus di udara yang punya ukuran 2,5 mikron atau lebih kecil.

Penurunan tersebut juga selaras dengan tingginya intensitas curah hujan.

Sebab ketika curah tinggi, konsentrasi parameter PM 2.5 memperlihatkan adanya penurunan. Sedangkan ketika hari tidak hujan, kosentrasi parameter PM 2.5 sedikit meningkat.

Adapun perbaikan kualitas udara juga dipengaruhi faktor arah angin. Hal ini mempengaruhi polutan jenis PM 2.5 atau partikel debu halus berukuran 25 mikrogram/m³.

"Arah angin yang mengarah ke Ibu Kota juga memengaruhi konsentrasi parameter PM 2.5," ungkapnya.

Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved