Eksklusif Tribunnews

Cerita Shihab, Setia Menemani Mahasiswanya Belajar di Rumah: Buka Kelas 24 Jam

Kelas online yang dimaksud bisa menggunakan platform e-campus President University atau platform online lainnya

TRIBUNNEWS.COM/DENIS DESTRYAWAN
Dosen Ilmu Komunikasi President University Mohammad Shihab (tengah) bersama dengan para mahasiswanya. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Dosen Ilmu Komunikasi President University Mohammad Shihab menceritakan sistem pengajaran selama status pandemi virus corona atau Covid-19.

Shihab mengatakan sejak physical distancing atau pembatasan fisik diberlakukan oleh pemerintah, President University langsung mengubah pembelajaran dari tatap muka di kelas menjadi kelas online.

Kelas online yang dimaksud bisa menggunakan platform e-campus President University atau platform online lainnya. "Seperti Google Classroom dan sejenisnya. Apapun platformnya, yang penting aktivitas perkuliahan tetap berjalan," kata Shihab kepada Tribun Network.

Baca: Update Kasus Corona di Bali Selasa 7 April 2020: 43 Positif, 2 Meninggal, 18 Sembuh

Bahkan, cerita Shihab, sidang skripsi pun dilakukan secara online. Yakni, dengan teleconference antara mahasiswa dengan dosen. "Ada juga yang ngasih materi online untuk dibaca sendiri dan diberikan tugas untuk pengayaan materinya," ujarnya.

Selama masa pandemi virus corona, ia memaksimalkan Whatsapp Group (WAG). Setiap Minggu, ia memberikan materi untuk dibaca dan tugas yang harus dikerjakan oleh mahasiswa.

"Dalam grup WA itu, mahasiswa boleh bertanya dan langsung saya jawab di grup itu. Karena kelas online, jadi kelasnya 24 jam/7 hari sih sebenarnya," cerita Shihab.

Kapanpun, kata Shihab, mahasiswa noleh bertanya walaupun bukan jadwal kelasnya. Shihab berusaha secepat mungkin untuk menjawab. "Karena grupnya banyak, jadi juggling juga antara satu grup ke grup lain," tutur Shihab.

Shihab menuturkan selama menerapkan pembelajaran online, hampir tidak ada kesulitan teknis. Hanya saja ia merasa ada energi yang berbeda ketika tidak mengajar secara langsung tatap muka.

Baca: UPDATE Kasus Corona di DKI Jakarta Hari Ini: 1.395 Positif, 65 Sembuh

"Kesulitan teknis sih hampir tidak ada. Hanya beda feelnya aja mas. Kalau mengajar di kelas saya bisa dapat feedback energi dari mahasiswa. Tahu rasanya mahasiswa paham atau tidak. Kalau kelasnya online, feedback tadi jadi kurang terasa," imbuh Shihab.

"Ikatan (engagement) dengan mahasiswa jadi berkurang dibanding kalau di kelas fisik," sambungnya.

Baca: Cara Dapat Token Listrik Gratis PLN via WhatsApp atau ww.pln.co.id pada Menu Stimulus PSBB

Sejak kelas online, Shihab mengurangi bobot tugas. Hal itu dilakukan agar mahasiswa tidak kelelahan. Sementara ini, kata dia, tak ada mahasiswa yang coba 'nakal' selama mengikuti pembelajaran online. Semisal bolos dari kelas.

Baca: RSPI Sulianti Saroso Rawat 12 Pasien Positif Virus Corona dan 14 Pasien Dalam Pengawasan 

"Saya kebetulan pakai Google Form untuk presensinya. Di materi yang saya kasih saya selipkan link Google Form dan ada jangka waktunya sesuai jadwal kelas. Jadi yang tidak baca materinya, pasti kelewat ngisi presensi," kata dia.

Ada hal yang akan dilakukannya di kelas, ketika masa pandemi corona ini selesai di Indonesia. "Yang pasti saya mau mengapresiasi mereka yang bertahan dan kembali lagi ke kampus. Saya biasanya ngasih kuis iseng-iseng berhadiah, mungkin itu untuk mencairkan suasana lagi," kata dia.

Penulis: Dennis Destryawan
Editor: Rachmat Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved