Breaking News:

Bob Iskandar: Pada Dasarnya Keinginan Bersatunya Korea Ini Sudah Sangat Diharapkan Oleh Rakyat Korea

Pertemuan WJC hari terakhir menampilkan pembicara dari kalangan wartawan dan akademisi Korea. WJC via aplikasi Zoom yang dikendalikan dari Seoul

Dok PWI Pusat
Bob Iskandar 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perundingan damai antara Korea Utara dan Korea Selatan soal Semenanjung Korea harus dilanjutkan, karena perang sudah berlangsung lama yaitu 70 tahun. Kedua belah pihak diserukan untuk melaksanakan kesepakatan puncak antara Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Kesepakatan itu disampaikan menjelang penutupan Konferensi Wartawan se-Dunia (World Journalists Conference/WJC) 2020, hari Rabu petang, 16 September 2020, di Seoul, setelah mendengarkan para pembicara dari berbagai negara, termasuk delegasi dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Bob Iskandar, Senior Director Confederation of Asean Journalists (CAJ), International Relations & Cooperations Worldwide.

Pertemuan WJC hari terakhir menampilkan pembicara dari kalangan wartawan dan akademisi Korea. WJC via aplikasi Zoom yang dikendalikan dari Seoul ini diikuti 100 wartawan dari 60 negara dan kalangan akademisi berlangsung tiga hari dengan membahas maraknya berita bohong, pandemi Covid-19, dan strategi perundingan damai di Semenanjung Korea.

Kesepakatan melanjutkan perundingan damai itu juga didorong oleh Lim Eul-chul, profesor dari Lembaga Kajian Timur Jauh pada Kyungnam University, dan Wang Son-taek, peneliti dari Think Tank Yeosijae yang berkantor di Seoul. Keduanya sepakat agar konflik Korea diakhiri karena membuat beban berat ekonomi dan militer di Korea.

Bob Iskandar dalam presentasinya mengatakan, pada dasarnya keinginan bersatunya Korea ini sudah sangat diharapkan oleh rakyat Korea, baik yang di utara maupun selatan.

“Saya melihat ini sesuatu yang sangat mendasar dan kuat untuk diperjuangkan oleh masing masing pimpinan dari kedua negara yang terpecah ini,” kata Bob.

Hal ini tentu terasa sulit, kata Bob, karena para pemimpinnya tidak secara sungguh-sungguh dan berani memperjuangkan untuk bisa bersatu, disamping cengkeraman pihak luar semakin kuat dari waktu ke waktu.

“China memihak pada Korea Utara, dan Amerika pada Korea Selatan Saya memberi tekanan pada satu kenyataan bahwasanya memperjuangkan suara hati nurani rakyat dalam menghadapi tirani, biasanya akan selalu berhasil asalkan dipimpin dan digerakan oleh pemimpin yang merakyat,” urainya.

Editor: Toni Bramantoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved