Sekeluarga Tewas di Jakarta Barat

Satu Keluarga yang Tewas di Kalideres Diduga Mengalami Desperate Death, Apa Itu?

Kematian satu keluarga tewas di dalam rumah di Kalideres diyakini berbeda-beda. Ada yang meninggal dunia secara natural dan desperate death.

Editor: Hasanudin Aco
Tribunnews.com/Rahmat W. Nugraha
Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Bareskrim Polri lakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) rumah satu keluarga tewas di Perumahan Citra Grand I Ekstension AC5/7, Kalideres, Jakarta Barat, Selasa (15/11/2022) siang. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Kematian satu keluarga tewas di dalam rumah di Kalideres diyakini berbeda-beda.

Ada yang meninggal dunia secara natural.

Ada lagi karena desperate death atau kematian yang sengsara.

Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala menduga pasangan suami istri bernama Rudyanto Gunawan/RG (71) dan Renny Margaretha/RM (68) meninggal secara natural.

Kematian natural ini bisa karena sakit atau faktor usia.

Adrianus tidak melihat bahwa penyebab kematian pasangan suami istri tersebut karena pembunuhan atau desakan pihak tertentu untuk bunuh diri.

Baca juga: IPW Bandingkan Kematian Satu Keluarga di Kalideres dengan Kasus Brigadir J

Dua korban lain  anak RG dan RM yakni  Dian (42) dan adik RG, Budyanto Gunawan (42) meninggal secara sengsara.

Kematian secara sengsara ini lantaran keduanya tidak mampu lagi bertahan hidup karena hanya mengandalkan RG dan RM.

Hal ini dapat terlihat dari korban BG yang menjual barang-barang di rumah untuk menyambung hidup dirinya dan keponakannya.

"Pada dua orang ini saya dapat kesan mereka masih mau bertahan hidup. Mereka yang saya duga melakukan penjualan barang, terutama barang-barang yang bungkusnya masih ditemukan kepolisian dan diletakkan di luar," ujar Adrianus, Rabu (30/11/2022) seperti dikutip dari Kompas.TV.

Tekait dugaan ritual tertentu dengan ditemukannya mantera, buku-buku lintas agama dan kemenyan, Adrianus menilai hal tesebut dilakukan sebagai pengharapan untuk bertahan hidup.

Namun kegitan ritual berserah diri meminta pertolongan tersebut tetap tidak mengubah keadaan. Keduanya perlahan meninggal dengan tidak mendapat asupan nutrisi.

"Kalau di awal tadinya saya percaya ritual yang bersifat mistik itu sebagai teori apokaliptik, mereka melakukan ritual dalam rangka bersiap untuk mati karena mereka yakin akan dapat dunia akhir zaman yang indah itu," ujar Adrianus.

"Tapi kemudian saya membuka kemungkinan bahwa mereka melakukan ritual-ritual itu untuk bertahan hidup. Jadi mirip sama fungsinya dengan kalau orang berdoa. Namun karena hasilnya tetap tidak ada jadinya pasrah, maka perlahan kekurangan asupan makanan, pingsan atau drop dan pada akhirnya meninggal," imbuhnya.

Halaman
123
  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved