Akuaponik Jadi Solusi Bertani di Permukiman Pemulung Jati Padang yang Rawan Banjir
Genangan banjir yang selama ini menjadi simbol keterbatasan hidup warga Jati Padang, Jakarta Selatan.
Ringkasan Berita:
- Warga pemulung Jati Padang bersama Fakultas Farmasi UI mengembangkan kebun akuaponik dan apotek hidup di kawasan rawan banjir
- Sistem tanpa tanah ini memungkinkan budidaya ikan dan sayur tetap produktif meski lahan tergenang
- Program ini mendorong kemandirian pangan, kesehatan, dan ekonomi keluarga melalui edukasi berkelanjutan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Genangan banjir yang selama ini menjadi simbol keterbatasan hidup warga Jati Padang, Jakarta Selatan, kini justru melahirkan harapan baru.
Di tengah keterbatasan lahan dan ancaman air yang datang tak menentu, warga mulai membangun mimpi tentang kemandirian pangan, kesehatan keluarga, hingga ketangguhan ekonomi rumah tangga.
Harapan itu perlahan terwujud melalui kebun akuaponik dan apotek hidup hasil kolaborasi Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (UI) bersama komunitas warga setempat.
Program bertajuk Edukasi Tanaman Obat dan Pendampingan Budidaya Secara Akuaponik tersebut digelar pada Sabtu (15/11/2025) sebagai bagian dari pengabdian masyarakat berkelanjutan yang didukung Hibah Pengabdian Masyarakat Dosen UI 2025 serta kerja sama dengan Turkish International Cooperation and Development Agency (TİKA).
Ketua tim pengabdian, apt. Roshamur Cahyan Forestrania MSc PhD mengatakan, akuaponik dipilih karena paling sesuai dengan karakter wilayah Jati Padang yang kerap dilanda banjir.
“Sistem ini tidak membutuhkan tanah, hemat air, mudah dipindahkan, dan tetap produktif meskipun terjadi banjir,” ujar Roshamur, Rabu (31/12/2025).
Dalam pendampingan tersebut, warga diajarkan menanam sayuran seperti sawi, kangkung, dan bayam yang dipadukan dengan budidaya ikan air tawar seperti nila, patin, dan gurame.
Limbah dari kotoran ikan dimanfaatkan sebagai nutrisi alami bagi tanaman, sehingga tidak memerlukan pupuk kimia tambahan.
Program ini juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular.
Botol dan wadah plastik bekas disulap menjadi media tanam, membantu mengurangi timbunan sampah sekaligus menekan biaya produksi rumah tangga.
Selain kebun pangan, tim Fakultas Farmasi UI memperkenalkan konsep apotek hidup. Beragam tanaman obat keluarga ditanam dan dilengkapi label QR code.
Dengan memindai kode tersebut melalui ponsel, warga dapat mengakses informasi mengenai khasiat tanaman serta cara pengolahan herbal secara mandiri.
Guru Besar Fakultas Farmasi UI, Prof. Dr. apt. Berna Elya, M.Si., berharap program ini memberikan manfaat jangka panjang.
“Kami ingin hasil kebun ini tidak hanya mencukupi kebutuhan keluarga, tetapi juga memiliki nilai ekonomi sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan warga,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pendampingan-Budidaya-Secara-Akuaponik.jpg)