Jumat, 1 Mei 2026

Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Diduga Ada Ormas Kuasai Perlintasan KA di Bekasi Timur, Dedi Mulyadi Minta Aparat Bertindak Tegas

Menurut Dedi Mulyadi, banyaknya jalan baru yang dibangun tanpa melalui lintasan resmi milik PT KAI menjadi salah satu penyebab kecelakaan.

Tayang:
Penulis: Nuryanti
Editor: Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
  • Dedi Mulyadi menyoroti persoalan perlintasan kereta api yang dinilai masih menjadi masalah serius di berbagai daerah.
  • Menurut Dedi Mulyadi, banyaknya jalan baru yang dibangun tanpa melalui lintasan resmi milik PT KAI menjadi salah satu penyebab kecelakaan.
  • Terkait dugaan ormas menguasai perlintasan kereta di kawasan Bulak Kapal, Bekasi Timur, Dedi Mulyadi meminta aparat bertindak tegas.

TRIBUNNEWS.COM - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi dugaan adanya organisasi kemasyarakatan (ormas) yang menguasai perlintasan kereta api di Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Dugaan ini muncul setelah terjadi insiden kecelakaan antara KRL Commuter Line jurusan Cikarang dengan KA Argo Bromo Anggrek di emplasemen Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026).

Dedi Mulyadi menyoroti persoalan perlintasan kereta api yang dinilai masih menjadi masalah serius di berbagai daerah.

Hal ini ia sampaikan saat melayat ke rumah duka Nur Ainia Eka Rahmadhyna (32) di Griya Asri 2 Blok H, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Rabu (29/4/2026). 

Nur Ainia Eka Rahmadhyna merupakan karyawan Kompas TV yang menjadi korban kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line.

Menurut Dedi Mulyadi, banyaknya jalan baru yang dibangun tanpa melalui lintasan resmi milik PT KAI menjadi salah satu penyebab kecelakaan.

“Perlintasan kemarin itu problem (masalah) di mana-mana. Banyak jalan dibangun baru, tapi bukan lintasan resmi PT KAI."

"Kalau tidak segera diamankan, peristiwa seperti ini akan terus terjadi,” ujarnya di rumah duka, Rabu, dilansir Wartakotalive.com.

Kemudian, tentang adanya dugaan ormas menguasai perlintasan kereta di kawasan Bulak Kapal, Bekasi Timur, Dedi Mulyadi meminta aparat bertindak tegas.

“Tindak tegas ormasnya. Tidak boleh ada yang menguasai sesuatu yang bukan haknya di Jawa Barat,” tegas dia.

Dedi menegaskan seluruh perlintasan kereta baik resmi maupun tidak resmi, harus segera dilengkapi sistem pengamanan untuk mencegah kecelakaan serupa terulang.

Baca juga: Polisi Minta Masyarakat Setop Sebarkan Foto dan Video Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi

Ia juga menyinggung kondisi wilayah yang padat penduduk sehingga membutuhkan solusi jangka panjang berupa pembangunan flyover.

Dedi menyebut rencana itu sudah masuk dalam program pembangunan Jawa Barat, meski pelaksanaannya dilakukan bertahap karena keterbatasan fiskal.

“Dengan kebijakan Pak Presiden yang akan membangun flyover, tentu kami berterima kasih. Itu sangat membantu,” terangnya.

Rencana Pembangunan Flyover

Perlintasan sebidang berada di Jalan Ampera, Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat.

Lokasinya sekitar 300 meter dari Stasiun Bekasi Timur serta Jalan Pahlawan Bulak Kapal sekitar satu kilometer dari titik kejadian.

Awalnya, di perlintasan sebidang Jalan Ampera, telah lebih dulu terjadi kecelakaan yang melibatkan KRL dari arah Cikarang menuju Jakarta dengan taksi Green SM.

Akibat insiden tersebut, lalu lintas kereta menuju Cikarang terganggu, sehingga KRL Lintas Cikarang tertahan di Stasiun Bekasi Timur.

Tak berselang lama, KA Argo Bromo Anggrek dari arah Jakarta masuk ke jalur Stasiun Bekasi Timur menghantam KRL yang sedang tertahan di lokasi.

Ternyata rencana pembangunan flyover di dua perlintasan sebidang, sudah ada sejak lama.

Namun, pembangunan flyover di lokasi tersebut belum dapat terealisasi.

"Konsep untuk membangun flyover ini sudah lama lah, karena memang kalau dari visi rasio gitu, dari jumlah kendaraan yang melintas itu harusnya memang sudah teknik lalu lintasnya harusnya sudah flyover," ungkap Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, Selasa, dikutip dari TribunJakarta.com.

EVAKUASI KORBAN - Konidisi kereta yang bertabrakan antara KRL Commuterline dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026).
EVAKUASI KORBAN - Kondisi kereta yang bertabrakan antara KRL Commuterline dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). (TRIBUNNEWS/HERUDIN)

Tri menyampaikan Pemkot Bekasi sudah melakukan penganggaran untuk proses pembebasan lahan proyek pembangunan flyover.

Pemkot Bekasi hanya dimandatkan terkait proses pembebasan lahan.

Sementara, untuk pembangunannya merupakan anggaran dari pemerintah pusat.

"Di 2025 sudah kita anggarkan Rp50 miliar, 2026 kita selesaikan lagi 56 miliar. Jadi sekarang kurang lebih sudah 106 miliar untuk pembebasan lahannya," jelas Tri.

Prabowo Siapkan Rp4 Triliun

Presiden Prabowo Subianto menyiapkan anggaran hingga Rp4 triliun untuk memperbaiki ribuan perlintasan kereta api yang tidak terjaga di seluruh Indonesia.

Langkah ini diambil sebagai respons pemerintah usai insiden kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Bekasi Timur.

Baca juga: Sambil Minta Doa, Alice Norin Kabarkan Kondisi Karyawannya usai jadi Korban Kecelakaan Kereta Bekasi

Saat mengunjungi para korban di RSUD Bekasi, Prabowo mengatakan anggaran besar tersebut dialokasikan demi menjamin keselamatan masyarakat di jalur transportasi massal.

Keputusan ini didasari atas temuan terdapat sekitar 1.800 titik perlintasan kereta api di Pulau Jawa yang masih tidak memiliki penjagaan memadai.

"Apakah dengan dilakukan pos jaga atau flyover, nanti pelaksanaannya kita tunjuk, kita perhitungkan sekitar hampir Rp4 T, demi keselamatan dan karena kita sangat penting, kita sangat perlu kereta api, ya kita harus keluarkan itu, sekarang saatnya," kata Prabowo, Selasa.

Khusus untuk wilayah Bekasi, Prabowo telah menyetujui usulan pemerintah daerah untuk pembangunan jalan layang untuk mengurai kepadatan dan menghindari kecelakaan di perlintasan sebidang.

"Pemerintah daerah Bekasi telah mengajukan dibuat flyover karena bekasi ini juga padat, dan keperluan kereta api itu sangat penting, sangat mendesak. Jadi saya udah setujui segera dibangun flyover langsung oleh bantuan presiden," jelas Prabowo.

Korban Tewas Jadi 16 Orang

Polda Metro Jaya menyampaikan korban meninggal dunia atas insiden kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur bertambah menjadi 16 orang.

Korban meninggal dunia diketahui sempat dirawat di ruang ICU RSUD Bekasi.

"Korban meninggal dunia bertambah satu orang sehingga total menjadi 16 orang, kami berharap tidak ada lagi penambahan korban," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan, Rabu (29/4/2026).

Baca juga: Pasca-Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur, Penumpang KRL Pilih Duduk di Gerbong Tengah

Berdasarkan data sementara hingga Rabu (29/4/2026) pukul 11.00 WIB, total korban mencapai 106 orang. 

Sebanyak 90 orang mengalami luka-luka, dengan 44 orang telah diperbolehkan pulang dan 46 lainnya masih menjalani perawatan.

Di sisi lain, kasus kecelakaan beruntun kereta api yang terjadi di kawasan Bekasi Timur, saat ini masih diselidiki.

Peristiwa tragis ini melibatkan taksi online, KRL, dan KA jarak jauh Argo Bromo Anggrek hingga menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.

Budi memastikan proses penyelidikan dan penyidikan tengah berjalan untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan.

Polisi masih mendalami kemungkinan adanya faktor kelalaian manusia maupun gangguan sistem komunikasi dalam operasional perkeretaapian.

“Kami akan dalami apakah ini terkait human error atau ada kendala sistem. Semua akan ditelusuri melalui pemeriksaan saksi, barang bukti, dan hasil olah TKP,” jelasnya.

(Tribunnews.com/Nuryanti/Reynas Abdila/Igman Ibrahim) (TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar) (Wartakotalive.com/Yolanda Putri Dewanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved