Majelis Perwakilan Rakyt Republik Indonesia

Bambang Soesatyo Dorong Presiden Jokowi Tawarkan Konsep Gotong Royong Kepada Masyarakat Dunia

Ketua MPR RI mendorong pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk menawarkan konsep gotong royong sebagai salah satu dari nilai Pancasila kepada dunia.

Editor: Content Writer
dok. MPR RI
Bamsoet saat menjadi narasumber Kompas TV Seminar Series-2, kerjasama Kompas TV dengan BPIP, di Menara Kompas, Jakarta, Rabu (24/8/22). 

TRIBUNNEWS.COM - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendorong pemerintahan Presiden Joko Widodo agar bisa memanfaatkan momentum sebagai pemimpin sekaligus tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi G-20, untuk menawarkan konsep gotong royong sebagai salah satu dari nilai Pancasila kepada dunia. Baik untuk mengatasi pandemi Covid-19 dan berbagai persoalan kesehatan lainnya, seperti cacar monyet yang mulai menyebar, maupun dalam mengatasi persoalan ekonomi dunia.

Konsep gotong royong sangat tepat dikedepankan dalam mengatasi berbagai persoalan dunia. Terkait pandemi Covid-19, misalnya, saat ini dunia masih dihadapkan pada ketimpangan akses antara negara maju dengan negara berkembang dan negara miskin dalam mendapatkan pasokan vaksin.

Terlihat dari tingkat vaksinasi negara-negara di kawasan Eropa dan Amerika Utara yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat vaksinasi di kawasan Afrika.

"Kesenjangan yang mencolok itu tergambar nyata, misalnya hingga April 2022 negara Kanada tercatat memiliki stok vaksin setara 9,6 dosis per-orang, sedangkan di Afrika hanya tersedia 0,2 dosis per-orang, sangat jauh dari apa yang dibutuhkan. Di negara-negara maju ketersediaan vaksin berlimpah, sementara di lebih dari 45 negara cakupan vaksin dosis pertamanya saja masih di bawah 30 persen, beberapa negara bahkan masih di bawah 10 persen," ujar Bamsoet saat menjadi narasumber Kompas TV Seminar Series-2, kerjasama Kompas TV dengan BPIP, di Menara Kompas, Jakarta, Rabu (24/8/22).

Turut hadir menjadi narasumber antara lain, Anggota DPR RI Hendrawan Supratikno, Ikon Pancasila 2021 sekaligus peneliti vaksin AstraZeneca Carina Joe, serta Peneliti HAM Gustika Jusuf Hatta.

Ketua DPR RI ke-20 sekaligus mantan Ketua Komisi III DPR RI bidang Hukum, HAM, dan Keamanan ini menjelaskan, meskipun nilai-nilai Pancasila digali dari nilai-nilai luhur dan jati diri bangsa Indonesia, namun pada hakikatnya nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah nilai-nilai universal, sehingga dapat dengan mudah diterima oleh komunitas/masyarakat global.

Inilah yang menjadikan penerapan nilai-nilai Pancasila dapat kita temukan rujukannya dalam dalam berbagai aspek dan dimensinya, termasuk dalam penyelesaian persoalan kesehatan global.

"Misalnya nilai Kemanusiaan yang adil dan beradab, sila ke-2 Pancasila, dapat kita rujuk pada penyelenggaraan kerjasama kemanusiaan dalam penanganan pandemi di tingkat global. Bantuan kemanusiaan tersebut dilandasi oleh dorongan yang tulus untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan yang menjadi hak bagi setiap warga dunia," jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia ini menerangkan, agar nilai-nilai Pancasila bisa terus relevan dalam segala situasi, Pancasila harus membumi, senantiasa hadir dalam tataran realita, dan bukan menjadi konsep di awang-awang. Pancasila harus menjadi nyata. Pancasila tidak boleh diucapkan tanpa pemaknaan yang tulus, hanya agar 'terlihat' nasionalis, empatis, dan populis di hadapan publik.

"Nilai-nilai Pancasila tidak boleh hanya diekspresikan sebatas klaim kehebatan dalam ritual pernyataan dan pidato, atau diajarkan sebatas hafalan sejumlah butir moralitas semata. Melainkan harus diimplementasikan dalam sikap hidup keseharian. Toleransi dan tenggang rasa, misalnya, merupakan bagian kecil dari wujud sikap Pancasila yang harus dihadirkan dalam kehidupan keseharian setiap anak bangsa," terang Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila sekaligus Wakil Ketua Umum FKPPI/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menambahkan, Presiden Soekarno pernah menyampaikan ideologi Pancasila saat berpidato di depan Kongres Amerika Serikat pada tahun 1956. Soekarno menerjemahkan Pancasila dengan bahasa yang sederhana. Pada pidato tersebut, Soekarno menyampaikan konsep believe in God, humanity, nationalism, democracy, and social justice.

"Kedudukan Indonesia sebagai pengampu Presidensi G20, dan pengaruh kuat Indonesia di kawasan ASEAN, harus dapat dioptimalkan untuk mengemukakan nilai-nilai universalitas Pancasila dalam mengatasi ketimpangan rasio laju pertumbuhan penduduk dunia dengan penurunan daya dukung lingkungan global. Universalitas nilai-nilai Pancasila inilah yang harus terus menerus kita suarakan melalui berbagai forum internasional, sebagaimana telah dicontohkan oleh Bung Karno," pungkas Bamsoet. (*)

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved