Muktamar NU di Makassar
Said Agil Ziarah ke Makam Syekh Yusuf di Makassar
Menj
Said Aqil bertemu KH Sanusi Baco, ulama kharismatik NU di Makassar yang juga sahabat karib KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) semasa menuntut ilmu di Mesir. Dalam kunjungannya, Said Aqil secara khusus menyampaikan rasa hormat dan bersyukur atas antuasisme masyarakat Sulawesi Selatan menyambut Muktamar NU ke-32.
“Apresiasi masyarakat Sulawesi Selatan terhadap Muktamar NU perlu kita syukuri. Inilah potret hakiki masyarakat kita yang sangat menjunjung tinggi akhlakul karimah,” kata alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dan Krapyak Yogyakarta ini.
Anre Gurrutta Haji (AGH) Sanusi Baco sendir menyambut hangat kehadiran Said Aqil di kediamannya untuk yang kesekian kalinya. Keduanya terlibat perbincangan yang cukup serius meski dibumbui guyonan khas nahdliyin.
“Muktamar ini sudah kita persiapkan dengan maksimal dan kita berharap menghasilkan sesuatu yang positif bagi warga nahdliyin dan masyarakat luas,” katanya Kiai Sanusi Baco.
Perjalanan dilanjutkan menuju komplek makam Syekh Yusuf yang berlokasi di Jalan Syekh Jusuf, tepatnya di perbatasan antara Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, lalu ke mesjid Katangka, mesjid tertua yang didirikan oleh Abdul Makmur, salah seorang kiai dari Minangkabau yang melakukan syiar Islam di Sulawesi Selatan.
“Ziarah ke makam itu salah satu tradisi NU yang perlu dilestarikan, saya kesini untuk berdoa kepada Allah SWT untuk tuanta salamaka (syekh yang diberkahi), sekaligus tawassul dan mengharapkan berkah tuanta salamaka agar Muktamar NU berjalan dengan baik dan sukses.”
“Rasa terima kasih dan penghormatan masyarakat Makassar terhadap para ulama dapat dibuktikan dengan gelar yang diberikan kepada Abdul Makmur, yaitu Dato Ri Bandang atau Daeng Bandang,” lanjutnya.
Sebelum menuju komplek makam raja-raja Gowa, rombongan Said Aqil berdoa di makam Sultan Hasanuddin, Sultan Alaudin, dan Raja Tallo.(nu online)