Senin, 13 April 2026

Salah Menyebut Angka, Siswi SMA Dipukul Gurunya Sampai Lebam

Dihajar guru pakai kayu pemukul bola kasti. Itulah yang dialami Vika Miftahul Jannah (15), siswi kelas X'4 pada Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Meulaboh, Aceh Barat saat pelajaran olahraga di sekolahnya, Rabu (17/3/2010).

Editor: Anton
TRIBUNNEWS.COM, MEULABOH - Dihajar guru pakai kayu pemukul bola kasti. Itulah yang dialami Vika Miftahul Jannah (15), siswi kelas X'4 pada Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Meulaboh, Aceh Barat saat pelajaran olahraga di sekolahnya, Rabu (17/3/2010).

Yatim piatu dari almarhum Rusman dan almarhumah Mariani, warga Desa Suak Sigadeng, Kecamatan Johan Pahlawan, ini harus menahan sakit, akibat dipukul guru olahraga di paha kanannya, saat ia bersama puluhan rekannya mengikuti pelajaran dari sang guru, Dra Hj Cut Mariani alias Cut Ani.

Pukulan yang diduga dilakukan guru bidang studi olahraga itu menyebabkan Vika yang berkulit putih kini trauma. Jiwanya terguncang. Apalagi, di bagian pahanya kini berbekas luka lebam membiru, akibat dipukul pakai tongkat pemukul bola kasti. Lagi pula, sebelumnya ia pernah jatuh pingsan karena digampar guru yang sama.

Menurut beberapa saksi mata yang dihubungi Serambi, Sabtu (21/3/2010), kesalahan Vika pada Rabu pekan lalu terbilang sepele. Ia hanya salah menyebut angka saat semua rekan-rekannya diminta gurunya berhitung dan menyebutkan angka sesuai dengan urutan posisi mereka saat berbaris.

Bukannya mengoreksi kesalahan muridnya secara mendidik dan persuasif, guru olahraga itu malah menghantamkan pemukul bola kasti dengan keras ke paha Vika. Sang murid mengaduh kesakitan mendapat serangan tiba-tiba dari gurunya.

Saat dihubungi terpisah, Sabtu, Vika mengaku dipukul gurunya. "Padahal, kesalahan saya sepele kali, tapi saya langsung dipukul. Ini kejadian ketiga yang saya alami dari guru yang sama. Akibatnya, setiap kali saya ikut pelajaran olahraga dan dengar nama gurunya, nyali saya langsung ciut. Jiwa saya terguncang karena takut. Kawan-kawan lainnya juga takut pada ibu guru yang satu itu, karena temparamennya sangat tinggi dan suka memukul," ungkap Vika Miftahul Jannah kepada sejumlah wartawan yang mewawancarainya, Sabtu. Saat itu tatapan matanya dan tampak seperti orang yang tertekan batin.

Menurut Vika, pemukulan terbaru dialaminya Rabu (17/3/2010), saat ia ikut pelajaran olahraga bersama rekan-rekannya. Gara-gara salah menyebut angka urutan tempat berdiri, ia mendapat pukulan keras dari gurunya. Paha kanannya membiru. Beberapa waktu lalu, Vika malah sempat pingsan dipukul guru perempuannya itu.

Akan tetapi, kata Vika heran, meski anggota keluarganya telah melaporkan kasus itu kepada kepala sekolah, tapi guru tersebut tetap tak ditindak. Akibatnya, kasus pemukukan itu terus terulang. Lagi-lagi Vika yang jadi korban.  Bahkan setelah dipukul, Vika ditantang gurunya untuk melapor ke polisi. Termasuk untuk melaporkan kasus pemukulan yang dialami puluhan siswa/siswi lainnya di sekolah itu. Guru bidang studi olahraga itu malah sesumbar bahwa ia memang sangat ingin tidur di penjara.

Kini, Vika bersama rekan-rekannya yang lain, mengaku trauma atas kasus pemukulan yang kerap terjadi di sekolah itu. "Mendengar nama guru olahraga itu saja, saya langsung takut, apalagi kalau sampai bertemu muka. Tapi sebagai murid, saya tak kuasa menghindar untuk tidak mengikuti pelajaran yang diasuhnya," ucap Vika.

Suka memukul
Secara terpisah, Dra Hj Cut Mariani alias Cut Ani yang dihubungi wartawan menyatakan, ia memukul anak didiknya disebabkan ia memang suka memukul dan menggunakan kekerasan dalam mendidik. Hebatnya lagi, saat ia memukul anak didiknya itu, Cut Ani mengaku melakukannya dengan sadar tanpa rasa kasihan. "Mau bilang apa lagi, saya juga tak tahu mengapa hal ini bisa saya alami. Mungkin karena sejak kecil saya mendapatkan didikan keras dari orang tua saya," ujarnya santai.

Bahkan, kata Cut Ani, ia juga tak menampik kalau ia pernah memukul Vika Miftahul Jannah dengan pemukul bola kasti saat pelajaran olahraga berlangsung Rabu (17/3/2010) lalu.  Menurut Cu Ani, banyak anak didik yang ia pukuli jika melakukan kesalahan. Jumlah persisnya tak terhitung lagi, mengingat ia bertugas di SMAN 2 Meulaboh itu sejak tahun 80-an. Di sisi lain, ia mengaku ingin mengubah sikapnya yang doyan memukul itu, tapi ia tak tahu harus berbuat apa, sehingga kebiasaan buruknya itu terus terulang, terutama terhadap siswi yang melakukan kesalahan.

Telah diperingatkan
Sebelumnya, Kepala SMAN 2 Meulaboh, Marwanto yang ditanyai wartawan mengaku telah berkali-kali memperingatkan Cut Ani sebagai guru supaya tak berbuat kasar terhadap anak didik. Tapi hal itu seperti tak digubris. Buktinya kasus pemukulan murid masih saja terjadi saat dia mengajar.  "Mau bilang apa, baiknya kasus ini kami serahkan saja kepada kepala dinas pendidikan kabupaten supaya segera ditangani," ungkap Marwanto yang terkesan rikuh mengomentari perilaku sang guru senior yang "ringan tangan" di sekolah itu.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved