Rabu, 8 April 2026

Kisah Relawan kepada Komisi I DPR

Tentara Israel Menaiki Kapal Saat Doa Qunut (1)

Ferry Nur seorang relawan Indonesia yang ikut dalam rombongan kapal Mavi Marmara menceritakan apa yang dialaminya selama dia disekap tentara zionis Israel. Ia mengungkapkan cerita pahit yang dialaminya itu kepada Komisi I DPR RI, Selasa (8/6/2010).

Penulis: Adi Suhendi
Editor: Juang Naibaho
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Adi Suhendi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ferry Nur seorang relawan Indonesia yang ikut dalam rombongan kapal Mavi Marmara menceritakan apa yang dialaminya selama dia disekap tentara zionis Israel. Ia mengungkapkan cerita pahit yang dialaminya itu kepada Komisi I DPR RI, Selasa (8/6/2010).

Dikisahkan Ferry, awalnya ia bergabung bersama relawan lainnya dari Indonesia ke IHH, sebuah organisasi kemanusian Turki. Menurut Ferry, IHH adalah organisasi yang sangat profesional. Sebelum memberangkatkan relawan, IHH menyebarkan surat kepada negara-negara yang ingin mengirimkan relawan ke Palestina.

Itu merupakan sebuah upaya dari IHH untuk menyatukan NGO dari 50 negara. "Awalnya relawan yang akan ikut sebanyak 400 orang, kemudian penawaran tersebut dipublikasikan, sehingga jumlah relawan menjadi 1200 orang. Karena kapasitas kapal Mavi Marmara tidak memungkinkan dan untuk menjaga ketertiban di atas kapal, maka jumlah tersebut disortir menjadi 750 orang," papar Ferry

Kemudian kapal Mavi Marmara berangkat dari Istanbul ke arah tenggara Antalia, dan mulai berlayar menuju Gaza. "Saat kami masih di lautan lepas, tentara Israel melakukan serangan. Saat itu kami anggap penyerangan tersebut merupakan suatu pembajakan," ungkapnya.

Penyerangan tentara Israel dilakukan saat para relawan muslim yang ada di atas Kapal Mavi Marmara sedang melaksanakan ibadah salat Subuh, tepatnya saat mereka sedang membacakan doa Qunut. "Salat subuh saat itu dibagi dua gelombang karena jamaahnya terlalu banyak," terangnya.

Tentara Israel menaiki kapal dengan persenjataan yang sangat lengkap. Mereka langsung melancarkan serangan dan berusaha mengambil alih kapal agar tidak berlayar menuju perairan Gaza. "Saat itu saya melihat dua kapal besar yang mengawal kami, dua helikopter, dan speedboot sebanyak enam buah," ucap Ferry.

Namun, karena niat relawan membawa misi kemanusiaan --sehingga tidak membawa persenjataan, baik tajam ataupun api-- akhirnya relawan secara spontan membela diri untuk mempertahankan kapal Mavi Marmara dari tentara Israel.

"Berdasarkan versi Israel yang ditayangkan di televisi, kapal itu bukan kapal Israel, itu kapal IHH yang membawa bantuan dari Turki, Bahrain, Malaysia, Inggris dan sebagainya. Jadi sesungguhnya tentara Israel yang menyerang lebih dulu bukan relawan," terangnya.(bersambung)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved