Rabu, 10 Juni 2026

Wartawan Kompas Meninggal

Walhi: Tulisan Ipul soal Ilog dan Kerusakan Lingkungan Cukup Tajam

Kepergian Muhammad Syaifullah tak hanya mengejutkan rekan-rekannya sesama wartawan Kompas, tetapi juga sejumlah aktivis lingkungan.

Tayang:
Penulis: Anwar Sadat Guna

"Saya mendapat kabar via SMS dari rekan wartawan Media Indonesia Pontianak , pagi tadi sekitar pukul 10.00," ujar Laily.

Laily mengenal Ipul ketika wartawan Kompas tersebut bertugas di Pontianak pada tahun 2005 silam. Di mata Laily, ia mengenal Ipul sebagai sosok yang supel, baik, dan tak banyak tingkah. Saat bertugas di Pontianak, kata Laily, Ipul aktif mengikuti diskusi soal isu-isu lingkungan maupun korupsi yang digelar Gerakan Masyarakat Sipil.

Tak hanya itu, Ipul juga dikenal sebagai wartawan di Kalimantan Barat yang intens menulis masalah-masalah kerusakan lingkungan maupun illegal logging.  "Dia termasuk wartawan yang peduli terhadap masalah-masalah lingkungan. Tak hanya di Pontianak, tetapi juga di wilayah kabupaten lainnya, termasuk di Ketapang," kata Laily.

Tak heran bila kabar meninggalnya Ipul juga sampai ke telinga aktivis lingkungan di Ketapang. "Seorang rekan aktivis di Ketapang juga kaget mendengar kabar meninggalnya Ipul."

Laily menyatakan bahwa dirinya mendapatkan kabar jika kematian Ipul diduga karena diracun. Namun ia berharap kabar tersebut tidak benar. Dan kalaupun benar, ia berharap agar wartawan yang memiliki resiko tinggi mendapat ancaman atau tindak kekerasan atas laporan dan liputannya kiranya mendapat perlindungan.   

Almarhum Ipul ditemukan pertamakali oleh rekannya, Wahyu Hidayat, mantan wartawan salah satu media elektronik. Saat ditemukan, tubuhnya kaku, tangan kanannya masih menggenggam erat remote control televisi, sementara mulutnya dipenuhi busa. Korban bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana dalam dan sarung.

Wahyu mengaku menerima telepon dari istri Almarhum, Senin (26/7/2010), pagi karena sejak Sabtu (24/7/2010) Syaifullah sulit dihubungi.

"Akhirnya saya langsung ke rumahnya. Saya lihat motor dan mobilnya ada di garasi. Saya ketok pintu rumah tapi tidak ada jawaban. Akhirnya saya masuk. Ternyata pintu rumah tidak terkunci, sementara anak kunci tergantung bagian di luar," tutur Wahyu.

Selama menjadi wartawan Kompas, Syaifullah banyak bertugas di wilayah Kalimantan, mulai dari Samarinda, kemudian ke Pontianak, Banjarmasin, lalu menjadi Kepala Biro wilayah Kalimantan dan tinggal di Balikpapan. Mulai bergabung di Kompas sejak 1997.

Syaifullah merupakan kelahiran Hulu Sungai Selatan, Kalsel. Almarhum merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS).

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved