JCLEC Habiskan Aus $ 20.000 untuk Kursus Satu Minggu
Jakarta Centre Law Enforcement Cooperation merupakan sekolah pendidikan manajemen kejahatan transnasional, khususnya terorisme.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak hal menakjubkan dari sebuah kata bernama Jakarta Centre Law Enforcement Cooperation (JCLEC). Namanya yang aneh salah satunya. Sebagai sekolah pendidikan manajemen penanganan dan penindakan kejahatan transnasional, khususnya kejahatan terorisme yang terletak di komplek Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, mengapa JCLEC menggunakan kata Jakarta dalam namanya?
"Tadinya memang mau kita namakan Semarang, tapi Jakarta sebagai ibu kota negara lebih mendunia dan sesuai untuk kepentingan regional. Kita namakan Jakarta dan itu tidak masalah," ujar Direktur eksekutif JCLEC Brigjen Pol Boy Samaludin di JCLEC, Semarang, Sabtu lalu.
JCLEC, sekolah yang didirikan atas kesamaan pandangan dan inisiatif Indonesia dan Australia tentang perlunya pembelajaran penanganan kejahatan transnasional, khususnya teroris di negara-negara kawasan regional, mempunyai keinginan mulia untuk meningkatkan kapasitas kemampuan operasional para penegak hukum dalam menangani segala kejahatan lintas negara terutama terorisme.
Sebelum JCLEC berdiri, memang belum pernah ada insiatif dan kesamaan kesadaran di antara negara-negara regional untuk serius menangani maraknya kejahatan lintas negara terutama terorisme dalam suatu konsep negara kawasan. "Ini yang mendorong JCLEC lahir. Pendiriannya semata-mata buat kepentingan keselamatan dan kemanusiaan," tuturnya.
Sejak berdiri pada Juli 2004 pula, JCLEC menutup diri dari kehidupan bermasyarakat. Bahkan mereka mengekslusifkan dan memprotect (melindungi) dirinya dengan berlebihan dari "jamahan" khalayak umum. CCTV, pagar besi beraliran listrik tegangan tinggi, pagar hidroulis dan kawat berduri merupakan beberapa perlengkapan tempur JCLEC dari "jamahan" dunia luar.
Mengapa? "Kita memang menggunakan sistem keamanan standar internasional. Ekslusif memang, karena saat berdiri lokasi ini bisa menjadi soft target bagi teroris," tutur Boy membuka rahasia keekslusifan mereka.
JCLEC tetap mempertahankan ekslusifitasnya meski kini mereka telah mulai membuka diri bagi khalayak umum yang mau "berteman" dengan mereka. Dalam penetapan orang-orang atau pihak-pihak yang dapat menimba ilmu di empat gedung yang berdiri di lahan seluas 6 hektar contohnya.
Tak sembarang orang dapat menikmati fasilitas mewah ruang belajar mengajar JCLEC. Tak semua orang bisa tidur di 62 kamar sekelas hotel berbintang dan 12 vila ekslusif yang "dipindahkan" kesana. Mereka yang terpilih untuk dapat belajar disana hanyalah mereka yang diundang oleh JCLEC secara resmi. Hampir setiap tahun mereka yang terpilih dari kalangan hakim, polisi, jaksa, birokrat, pegawai hingga mahasiswa meningkat.
"Peserta kita sudah ada 8.049 orang dengan dosen sebanyak 1.924 dari dalam maupun luar negeri. Sedangkan sejak 2004 kita sudah menyelenggarakan 348 angkatan kursus," jelas Boy. Setiap kursus digelar, JCLEC membiayai keseluruhan biaya baik akomodasi dan transport mereka yang terpilih. Oleh karenanya, JCLEC butuh 20 ribu dollar Australia setiap minggunya hanya untuk sekali penyelenggaraan kursus.
Kepada mereka yang terpilih, JCLEC memberikan empat materi pendidikan. Keempatnya adalah intelijen, manajemen, investigasi, dan forensik. Dari keempatnya, investigasi dan manajemen mendapat porsi dan prosisi lebih besar. Untuk kurikulum, JCLEC yang berada di bawah Lembaga pendidikan kepolisian (Lemdikpol) dalam struktur Polri, menyajikan menu Manajemen Insiden Paska Ledakan, Pengenalan dan Identifikasi Senjata Api, Program Anti-Teror dan Penuntutan Hukum, Kepemimpinan dalam intelijen kriminal, Program Kepemimpinan Eksekutif Regional, Manajemen Internasional pada Kejahatan Serius, Anti Pencucian Uang dan puluhan program pelatihan unggulan lainnya.
Sepanjang kehadirannya, JCLEC telah mampu menarik perhatian 46 negara untuk ikut terlibat dalam suatu jalinan kerjasama. Bahkan beberapa universitas luar negeri dan dalam negeri ikut didalamnya. Tercatat universitas Indonesia, universitas Gajah Mada dan akan menyusul Universitas Airlangga merupakan universitas dalam negeri yang bekerjasama dengan JCLEC.
Semua keberhasilan itu memang bernilai mahal. Tak tanggung-tanggung, pemerintah Australia mengucurkan dana 36 juta dollar bagi pembangunan dan operasional JCLEC di lima tahun pertama mereka berdiri. Itu belum ditambah dengan 7 juta dollar Australia yang harus digelontorkan negeri kangguru itu bagi kelangsungan JCLEC. Selain Australia, tercatat negara-negara lain juga menggelontorkan dananya bagi JCLEC. Sebut saja salah satunya negeri kincir angin Belanda.
Pantas saja jika JCLEC memiliki banyak kemewahan. Tak hanya sebagai sekolah manajemen penanganan dan penindakan hukum kejahatan tansnasional, khususnya kejahatan terorisme, tapi juga sebagai tempat melepas lelah usai bersekolah dengan fasilitas pusat kebugaran dan kolam renang dan lainnya di sana.(*)