Breaking News:

IPA Gelar Aksi Tidur di Depan Sekretariat ASEAN

Puluhan demonstran dari Indonesian People's Action on ASEAN (IPA-A), menggelar aksi tidur di depan Kantor Sekretariat ASEAN

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Puluhan demonstran yang mengatasnamakan diri mereka Indonesian People's Action on ASEAN (IPA-A), menggelar aksi tidur di depan Kantor Sekretariat ASEAN, Jakarta. Mereka menentang disusupinya proses integritas negara-negara peserta ASEAN, oleh negara-negara maju.

Dengan memegang huruf-huruf bertuliskan No to Neolib in ASEAN, tiap-tiap peserta demo, berteriak-teriak dan menggelar aksi tidur di jalan tepat di depan Gedung Sekretariat ASEAN.

Menurut Juru Bicara IPA-A, Aan Anshari, aksi yang mereka gelar ini, juga guna meminta agar dalam proses integrasi diantara negara ASEAN, memberikan manfaat bagi kemajuan dan kemakmuran masing-masing negara anggota.

"KTT ASEAN, integrasi pasar, bahan mentah, buruh pekerja. Kami mengapresiasi ASEAN bila memajukan antar negara, faktanya tidak, rakyat ASEAN, Indonesia tak merasakan manfaat didirikannya ASEAN. ASEAN harus mengurus orang di ASEAN. Dia harus memberi kemakmuran, human right," katanya.

Berdasarkan siaran rilis IPA-A, disebutkan, posisi strategis ASEAN, dengan segala keunggulannya membuat berbagai negara maju, tak hanya Amerika, memandang penting kawasan ini, sebagaiu perluasan politik dan ekonomi mereka. Seperti China, menurut IPA-A, pasar ASEAN dipandang China sebagai pasar potensial dengan peluang investasi luar negeri mencapai USD 52,379.5 juta, dan transaksi perdagangan mencapai USD 1,404 miliar.

Berbagai kerjasama antara ASEAN, dengan negara-negara maju, dan kelompok negara-negara lainnya, juga dinilai IPA, telah merugikan negara-negara ASEAN itu sendiri. IPA menyebut perjanjian-perjanjian itu diantaranya, US-ASEAN, CAFTA, NAFTA, Australian-ASEAN-New Zealand Free Trade Agreement dan Uni Europe ASEAN.

Secara lebih khusus, katanya, Indonesia yang pertumbuhan ekonominya masih belum beranjak pasca krisis ekonomi hebat pada 2008 makin terpuruk dengan adanya FTA. Kementerian Perindustrian RI (2011), merilis sedikitnya 228 perusahaan bangkrut sejak diberlakukannya CAFTA.

"Gulung tikarnya berbagai perusahaan di Indonesia yang mungkin juga terjadi di negara anggota ASEAN lainnya tentu akan melahirkan PHK, dan menambah daftar penggangguran yang ada di negara-negara ASEAN," ungkapnya. (*)

Penulis: Samuel Febrianto
Editor: Harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved