Contek UN Berjamaah di Surabaya
Kasus Ibu Siami Bukti Pelaksanaan UN Terjadi Kecurangan
Kasus Ibu Siami, dinilai oleh Presidium Federasi Serikat Guru Indonesia, Retno Lisyarti, merupakan bukti praktik kecurangan UN
Laporan Wartawan tribunnews.com, Samuel Febriyanto
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -Peristiwa yang dialami oleh Ibu Siami, dinilai oleh Presidium Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Lisyarti, merupakan bukti praktik kecurangan dalam pelaksanaan UN terjadi.
"UN telah menjelma menjadi momok yang menakutkan, menebar kecemasan, pada siswa, guru, sekolah, dan orangtua, dan menimbulkan konflik sosial," ujar Retno, dalam acara penggalangan dukungan terhadap Ibu Siami, yang digelar di Aula Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), hari ini, Kamis (16/6/2011).
Ia sebagai guru pengawas dalam pelaksanaan UN, mengaku pernah menemukan adanya praktik kecurangan. "Tahun 2010, saya pengawas di SMA di Jakarta Utara, wilayah yang tingkat ketidaklulusannya tertinggi di Jakarta. Saya menemukan bahwa murid sekolah itu sebelum ujian menyalin jawaban soal, bersama-sama di dalam mushola, sebelum ujian," ujarnya.
Oleh karenanya ia meminta Pemerintah meninjau kembali sistem pendidikan nasional, termasuk pelaksanaan UN. Hal itu menurutnya, selain terbukti bahwa dampak negatif dari pelaksanaan UN menimbulkan tindakan-tindakan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara etis dan pedagogis, Mahkamah Agung, sudah memutuskan bahwa UN, melanggar hak anak.
"Dalam kerangka sistem evaluasi, evaluasi tidak hanya melihat hasil belajar murid, tetap juga melihat proses belajar murid, pada isu ini, evaluasi dipersempit hanya pada hasil belajar. Implikasi dipersempit evaluasi ini, sekolah berlomba-lomba mencari hasil belajar bukan proses belajar. Ini mengakibatkan muncul tindakan-tindakan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara etis dan pedagogis. Misalnya pencotekan masal," paparnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, cerita Siami bermula dari laporan putranya Alif, yang diminta dua orang gurunya memberikan contekan kepada teman-temannya satu kelas saat Ujian Nasional (UN). Alif dikenal sebagai anak pandai di sekolahnya.
Siami kemudian mengadukan hal tersebut ke kepala sekolah dan komite sekolah, namun tidak digubris. Kasus ini lalu masuk media massa sehingga menarik perhatian Walikota Surabaya. Kepala sekolah dan dua guru SD tersebut mendapat sanksi. Sedangkan warga Gadel, tempat Siami tinggal marah besar pada Siami dan keluarganya dan menyebutnya sebagai "sok pahlawan" dan "tak punya hati nurani".