Senin, 1 September 2025

Bentrok di Bima

SBY Harus Evaluasi Bentrok Berdarah di Bima

Konflik massa dan aparat keamanan di wilayah pertambangan kerap terjadi, salah satunya di Bima, Nusa Tenggara Barat.

Penulis: Y Gustaman
Editor: Ade Mayasanto
zoom-inlihat foto SBY Harus Evaluasi Bentrok Berdarah di Bima
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Budiono mengumumkan susunan baru Kabinet Indonesia Bersatu II di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (18/10/2011). Sejumlah nama baru masuk ke dalam Kabinet Indonesia Bersatu II. (tribunnews/herudin)

Laporan Wartawan Tribunnews.com Yogi Gustaman

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Konflik massa dan aparat keamanan di wilayah pertambangan kerap terjadi, salah satunya di Bima, Nusa Tenggara Barat. Hal tersebut perlu dicarikan jalan keluar. Komnas HAM menilai, pengamanan aparat di wilayah tambang perlu menjadi perhatian pemerintah.

"Makanya kita meminta presiden mengevaluasi penanganan pengamanan di wilayah konflik sumber daya alam," ujar Wakil Ketua Komnas HAM, Ridha Saleh kepada Tribunnews.com lewat sambungan telepon di Jakarta, Sabtu (24/12/2011).

Selain itu, Ridha melanjutkan, Komnas HAM merekomendasikan agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentuk sebuah tim atau panitia penyelesaian konflik agraria dan sumber daya alam. Sejauh ini tidak diperhatikan, maka konflik akan terus timbul.

Ridha mengaku, jatuhnya korban karena sengketa ijin pertambangan di Bima pagi tadi, sangat disesalkan Komnas HAM. Pasalnya, Komnas HAM sudah memeringati jauh-jauh hari untuk mencegah aksi tak tidak diinginkan terjadi, seperti bentrok.

Peringatan itu berupa rekomendasi Komnas HAM kepada Bupati Bima yang intinya, memperbaiki sistem informasi dan sosialisasi kegiatan pertambangan PT Sumber Mineral Nusantara. Selain, menghentikan kegiatan pertambangan, sambil kondisi stabil.

"Sedang rekomendasi kepada Kapolda adalah diminta menempuh langkah koordinatif dan komunikatif dengan seluruh unsur masyarakat guna mencegah konflik," terang Ridha. Tapi, katanya, tidak ada respon. "Yang ada responnya berantem," sesalnya

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan