Sabtu, 30 Agustus 2025

Bentrok di Bima

HMI Kutuk Keras Tindakan Represif Polisi

Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mengutuk keras aksi represif polisi dalam mengamankan aksi massa di Bima.

Penulis: Edwin Firdaus
Editor: Ade Mayasanto
zoom-inlihat foto HMI Kutuk Keras Tindakan Represif Polisi
TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANA
Massa gabungan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi bersama beberapa organisasi kemahasiswaan lainnya menggelar aksi solidaritas di depan Istana Negara Republik Indonesia, Jakarta, Minggu (25/12/2011). Mereka menyuarakan penentangannya terhadap kasus pelanggaran HAM di Bima, Nusa Tenggara Barat, dan kasus pembakaran diri Sondang Hutagalung. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)

Laporan Wartawan Tribunnews.com Edwin Firdaus

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mengutuk keras aksi represif polisi dalam mengamankan aksi massa di Bima. Apalagi, penanganan polisi menimbulkan korban jiwa sebanyak dua orang.

"Kami sangat mengutuk keras tindakan refresif kepolisian terhadap warga sape, Bima NTB," kata Ketua PB HMI, Noer Fajrieansyah di Jakarta, Senin (26/12/2011).

Fajri menjelaskan, aksi Pemblokiran Palabuhan Sape, Kabupaten Bima, NTB yang dilakukan mahasiswa dan warga Bima adalah puncak kemarahan mahasiswa dan warga bima dimana mereka beberapa kali turun kejalan untuk meminta kepada Bupati Bima agar mencabut SK nomor 188/45/357/004 tahun 2010 tentang izin eksplorasi pertambangan PT. Sumber Mineral Nusantara yang dikeluarkan oleh Bupati Bima. Namun pihak pemerintah daerah tidak bergeming sedikit pun.

"Aksi Pemblokiran Palabuhan Sape, Kabupaten Bima, NTB yang dilakukan mahasiswa dan warga bima adalah puncak kemarahan mahasiswa dan warga Bima," ucapnya.

Ia menjelaskan, mereka beberapa kali turun ke jalan untuk meminta kepada Bupati Bima agar mencabut SK nomer 188/45/357/004 tahun 2010 tentang izin eksplorasi pertambangan PT. Sumber Mineral Nusantara yang dikeluarkan oleh Bupati bima. Namun pihak pemerintah daerah tidak bergeming sedikit pun.

"Justru aksi itupun disikapi secara membabi buta oleh aparat Kepolisian Polda NTB. Alhasil, tindakan biadab dengan cara menembak para demonstran, mengakibatkan beberapa pendemo, yang terdiri dari beberapa aktivis mahasiswa dan masyarakat harus meninggal, dan terbaring kritis di Rumah Sakit Daerah Kota Bima," ujar Fajri.

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan