Bentrok di Bima
HMI Kutuk Keras Tindakan Represif Polisi
Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mengutuk keras aksi represif polisi dalam mengamankan aksi massa di Bima.
Penulis:
Edwin Firdaus
Editor:
Ade Mayasanto

Laporan Wartawan Tribunnews.com Edwin Firdaus
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mengutuk keras aksi represif polisi dalam mengamankan aksi massa di Bima. Apalagi, penanganan polisi menimbulkan korban jiwa sebanyak dua orang.
"Kami sangat mengutuk keras tindakan refresif kepolisian terhadap warga sape, Bima NTB," kata Ketua PB HMI, Noer Fajrieansyah di Jakarta, Senin (26/12/2011).
Fajri menjelaskan, aksi Pemblokiran Palabuhan Sape, Kabupaten Bima, NTB yang dilakukan mahasiswa dan warga Bima adalah puncak kemarahan mahasiswa dan warga bima dimana mereka beberapa kali turun kejalan untuk meminta kepada Bupati Bima agar mencabut SK nomor 188/45/357/004 tahun 2010 tentang izin eksplorasi pertambangan PT. Sumber Mineral Nusantara yang dikeluarkan oleh Bupati Bima. Namun pihak pemerintah daerah tidak bergeming sedikit pun.
"Aksi Pemblokiran Palabuhan Sape, Kabupaten Bima, NTB yang dilakukan mahasiswa dan warga bima adalah puncak kemarahan mahasiswa dan warga Bima," ucapnya.
Ia menjelaskan, mereka beberapa kali turun ke jalan untuk meminta kepada Bupati Bima agar mencabut SK nomer 188/45/357/004 tahun 2010 tentang izin eksplorasi pertambangan PT. Sumber Mineral Nusantara yang dikeluarkan oleh Bupati bima. Namun pihak pemerintah daerah tidak bergeming sedikit pun.
"Justru aksi itupun disikapi secara membabi buta oleh aparat Kepolisian Polda NTB. Alhasil, tindakan biadab dengan cara menembak para demonstran, mengakibatkan beberapa pendemo, yang terdiri dari beberapa aktivis mahasiswa dan masyarakat harus meninggal, dan terbaring kritis di Rumah Sakit Daerah Kota Bima," ujar Fajri.