Bentrok di Bima
Komnas HAM: Warga Bima Sudah Lari Masih Ditembak
Komnas HAM membeberkan beberapa fakta baru mengenai bentrokan antara warga dengan kepolisian di Bima Nusa Tenggara Barat.
Penulis:
Danang Setiaji Prabowo
Editor:
Ade Mayasanto

Laporan Wartawan Tribunnews.com Danang Setiaji
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komnas HAM membeberkan beberapa fakta baru mengenai bentrokan antara warga dengan kepolisian di Bima Nusa Tenggara Barat. Komnas HAM juga memutar secara lengkap tindakan represif dan arogansi yang dilakukan oleh aparat.
Ketua Tim Pemantau dan Penyidikan bentrok di Bima, Ridha Saleh, mengatakan tindakan yang dilakukan aparat kepolisian merupakan langsung tindakan represif tanpa mengutaman tindakan persuasif terlebih dulu. Dalam video rekaman yang diputar oleh Komnas HAM, tampak polisi berpakaian preman meninju perut dan kepala warga. Video tersebut juga menunjukkan tindakan aparat yang menendangi kepala warga saat dikumpulkan di dekat pantai.
"Kita lihat di video ini. Warga sudah lari, masih ditembak. Katanya pakai water canon, tetapi di sini kita lihat tidak ada water canon. Polisi bukannya menggunakan peredam masyarakat dulu, tetapi langsung memajukan brimob," ujar Ridha, Selasa (3/1/2012) di kantor Komnas HAM.
Ridha pun menjelaskan dari korban yang meninggal, ada yang meninggal karena melindungi rekannya. "Temuan kami di lapangan, Arif rahman (18) meninggal di kampung Jala desa Bugis sekitar 700 meter dari pelabuhan. Kemudian rekannya, Syaiful (17), juga tewas di tempat yang sama karena hendak menolong Arif," terang Ridha.
Ridha menambahkan, puluhan korban luka-luka baik itu karena luka tembak maupun luka karena dipukul polisi. "Yang luka di kepala ini, karena dipukul dengan gagang pistol," tandasnya.