Film Innocence of Muslims

Pernyataan Sikap Alumni Al Azhar Mesir

Tindakan menistakan, melecehkan agama, dan simbol-simbol keagamaan, dalam bentuk apa pun seperti film “Innocence of Muslims” atau gambar

Pernyataan Sikap Alumni Al Azhar Mesir
Serambi Banda Aceh/BEDU SAINI (BDU)
Massa dari Front Pembela Islam (FPI) Aceh membakar bendera Amerika Serikat dan Israel dalam aksi menentang film Innocence of Muslims dan kartun Nabi Muhammad di depan kantor Uni Eropa Banda Aceh, Jumat, (21/9). SERAMBI/BEDU SAINI

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tindakan menistakan, melecehkan agama, dan simbol-simbol keagamaan, dalam bentuk apa pun seperti film “Innocence of Muslims” atau gambar karikatur di majalah Charlie Hebdo Prancis, dalam pandangan agama apa pun dan akal siapa pun tidak dibenarkan.

Hal itu dapat melukai perasaan umat beragama dan mengganggu perdamaian masyarakat dunia. Oleh karena itu, pelaku penistaan agama harus dihukum seberat-beratnya.

Demikian salah satu butir pernyataan sikap yang dikeluarkan Ikatan Alumni Universitas Al-Azhar Mesir di Indonesia, kepada pers, Rabu (26/9/2012). Pernyataan tersebut ditandatangani Ketua Umum Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA, Wakil Ketua Umum Dr. Muhammad Zainul Majdi, MA, dan Sekjen Dr. Muchlis M Hanafi, MA.

Pernyataan sikap alumni Al Azhar ini sejalan dengan sikap tegas Pemerintah Indonesia. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat pidato di Debat Umum Sidang Majelis Umum ke-67 PBB di Markas PBB, Selasa, menyuarakan konsensus internasional untuk mencegah permusuhan berlatar agama seperti kasus Innocence of Muslims yang menggemparkan dunia. Indonesia mengajukan secara resmi protokol soal penistaan agama ini

Dalam menghadapi situasi seperti penistaan agama ini, Wakil Ketua Ikatan Alumni Al Azhar Mesir Zainul Majdi menyatakan, Ikatan Alumni Al-Azhar Mesir mendukung penuh sikap Imam Besar dan Pemimpin Tertinggi Al-Azhar, Syeikh Ahmad Thayyeb, yang mengutuk keras pembuatan film tersebut dan menggolongkannya sebagai tindakan kriminal, serta meminta kepada organisasi internasional PBB untuk membuat konvensi anti-penodaan agama.

Zainul Majdi yang juga Gubernur Nusa Tenggara Barat mengatakan, Alumni Al Azhar di Tanah Air juga menyampaikan protes terhadap penodaan dan pelecehan simbol-simbol keagamaan merupakan kewajiban umat beragama, Islam khususnya, dan setiap orang yang berakal sehat.

Tetapi dalam melakukannya umat Islam perlu menunjukkan sikap bijak dan bisa menahan diri, dengan tidak melakukan aksi-aksi kekerasan terhadap orang-orang atau institusi yang tidak berkaitan langsung dengan film tersebut. Respon yang berlebihan dan tidak proporsional serta cenderung destruktif justru akan kontra produktif bagi Islam dan umat Islam, sebab Islam adalah agama yang cinta damai dan tidak mengajarkan kekerasan.

Dalam menyikapi Kebebasan berekspresi, yang menjadi dasar utama parta pembuat film atau pembuat kartun Nabi, Zainul Majdi mengatakan, masyarakat dunia hendaknya menjalankan kebebasan berekspresi itu secara bertanggung-jawab, dengan senantiasa menjaga perasaan dan tidak melukai hati warga masyarakat dunia lainnya.

"Tindakan menistakan dan melecehkan agama dan simbol-simbol keagamaan, dalam bentuk apa pun, apalagi terhadap sosok Nabi Muhammad SAW yang sangat dihormati umat Islam, bukanlah bagian dari kebebasan berekspresi," katanya.

Diakui para alumni Al Azhar Mesir, kata Zainul Majdi, penodaan terhadap agama Islam dan tokoh sucinya, Nabi Muhammad, sering terjadi di masa lalu, dan kemungkinan masih akan terus terjadi. Umat Muslim tidak boleh membiarkan itu terjadi.

"Perlu langkah-langkah sistematis di tingkat internasional yang dilakukan oleh negara-negara Islam dan organisasi-organisasi Islam, serta tokoh masyarakat dan profesional, untuk dapat mengupayakan pelarangan menistakan agama dan kepercayaan dalam segala bentuknya.," ujarnya.

Klik:

Penulis: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved