Calon Presiden 2014

Tak Maju Lagi, Ini Pandangan SBY Soal Pilpres 2014

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angkat suara mengenai Pemilihan Presiden (Pilres) 2014 mendatang.

Tak Maju Lagi, Ini Pandangan SBY Soal Pilpres 2014
Istimewa
Presiden SBY

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angkat suara mengenai Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 mendatang.

Kata SBY, Pilpres mendatang tidaklah sama dengan pilpres yang lalu. Baik pada 2004 maupun 2009 lalu.

Pasalnya, Pilpres 2014 mendatang, incumbent tidak lain SBY, tidak bisa lagi mengikuti "pertarungan" menuju kursi RI 1, karena SBY telah memimpin dua periode.

"Karena tidak ada calon incumbent, medan politik akan luas sekali, lebar kompetisi bisa lebih keras dibandingkan sebelumnya," ungkap Presiden saat acara Presidential Lecture oleh Presiden Republik Indonesia dengan tema "Indonesia Democracy Outlook", di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (15/1/2013), yang turut diliput Tribunnews.com.

Pertarungan politik mengincar kursi RI 1, kata dia juga bakal lebih semarak mengingat pemunculan Calon Presiden begitu banyak, seperti yang sudah muncul yakni 36 Capres berdasarkan versi majalah Indonesia 2014.

"Baik itu yang sudah mendeklarasikan secara langsung maupun masih terselubung. Bagi saya baik," menurut SBY.

Masih menurut SBY, makin banyak calon yang ingin memimpin dan berbuat lebih baik untuk rakyat itu harus disyukuri.

"Pandangan saya, kampanye terbuka dalam gubungan besar, sebaiknya dikurangi. Diganti dengan kampanye 1000, 2000 orang di ruangan tertutup. Yang penting emdia massa mau menyiapkan, yang penting rakyat mendengar. Dengan demikian lebih tertib dan hemat," pesan SBY.

Begitu pula, kata SBY, untuk debat capres dan cawapres dibuat terarah dan lebih tajam serta fokus serta relevan dengan pekerjaan presiden.

"KPU harus ajak rakyat menonton, sebagaimana di AS. Setelah simak debat itu rakyat diajak mendengarkan bukan saja visi dan misi umum tetapi juga menyangkut solusi apa dan tindakan apa yang akan dilakukan presiden terpilih nanti menghadapi masalah bangsa yang kompelks," menurutnya.

"Pertanyaan harus rinci, misal seputar ekonomi, kesejahteran rakyat, pemberantasan koruspi, lingkungan, dan hubungan internaisonal," tegasnya.

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved