Minggu, 19 April 2026

Eurico Guterres: Ini Provokasi Awal Lere Anan Timur

Pernyataan Mayor Jenderal Lere Anan Timur menyulut emosi Ketua Umum Uni Timor Aswai'n (Untas), Eurico Guterres.

Editor: Ade Mayasanto

TRIBUNNEWS.COM, KUPANG - Pernyataan Panglima angkatan bersenjata Timor Leste, Forsa Defeza Timor Leste (FDTL), Mayor Jenderal Lere Anan Timur menyulut emosi Ketua Umum Uni Timor Aswai'n (Untas), Eurico Guterres. Mantan Komandan Milisi Aitarak-Dili ini menganggap, pernyataan  Lere Anan Timur sebagai bentuk provokasi.

"Kenapa cuma warga eks Timor Timur di Indonesia yang dipersoalkan Lere? Karena itu, bagi saya, pernyataan Lere itu bisa berimbas pada masa depan hubungan bilateral Indonesia dan Timor Leste. Ini provokasi awal yang dilakukan Panglima RDTL, menyusul kepergian Pasukan Multinasional dari Dili akhir Desember silam," kata Eurico, Minggu (20/1/2013).

Menurutnya, pernyataan Lere Anan yang mengancam menangkap Hercules lantaran melakukan intervensi di Timor Leste sebagai tindakan konyol. Apalagi, Lere Anan juga menolak kehadiran warga eks Timor timur kembali ke Timor Leste.

"Dia bertindak konyol. Apa yang diomongkan Lere menunjukkan kalau dia jenderal berwatak kopral," kata  Minggu (20/1/2013).

Ia menilai, pernyataan Lere mencuat karena dibakar cemburu saat menyaksikan Hercules disambut istimewa di kampung halaman. "Jenderal juga manusia. Tak heran jika Lere pun gelisah melihat Hercules disambut kayak presiden," ucapnya.

Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) NTT ini mengatakan, seluruh dunia tahu bahwa Timor Timur sudah merdeka sebagai sebuah negara yang mandiri kemudian berganti nama menjadi Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Maka, kedatangan Rosario Marshal alias Hercules ke Timor Leste tidak ada kaitannya sama sekali dengan ketertiban dan keamanan Timor Leste.

Ia menganggap, kunjungan Hercules itu murni kunjungan keluarga yang bersifat pribadi. Sehingga, rasa iri Lere melihat Hercules diperlakukan istimewa adalah soal pribadi tetapi penolakan Lere terhadap kembalinya warga eks Timor Timur dari Indonesia adalah persoalan politik, hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM).

"Air ketuban saya tumpah di Viqueque. Sehingga saya pun anak kandung tanah Timor. Tidak ada seorang pun yang bisa menghambat orang lain kembali ke kampungnya. Hukum juga tidak bisa menghalangi seseorang untuk kembali ke tanah leluhurnya. Hanya Tuhan saja yang bisa mencegah segalanya," tegas Eurico.

Eurico menambahkan, warga eks Timtim tidak hanya di Indonesia saja tetapi ada yang di Australia, Macao, Afrika, Portugal dan sebagainya. Tidak sedikit di antara mereka yang meninggalkan Dili ketika Timor Timur bergolak.

"Setelah Timtim merdeka, mereka pulang layaknya pahlawan perang. Di Timtim sendiri, ada yang memilih tinggal di dusun dan gunung. Mereka tidak berbuat apa-apa. Tetapi setelah Timtim merdeka, mereka merasa sebagai "komandan zona"," ungkap Eurico.

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved