Anas Mengaku Angkat Cerita Sengkuni untuk Populerkan Wayang
Masih ingat dengan Sengkuni? Sekitar Maret 2013 lalu cerita soal Sengkuni ini memang bikin gempar tanah air.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Masih ingat dengan Sengkuni? Sekitar Maret 2013 lalu cerita soal Sengkuni ini memang bikin gempar tanah air. Pasalnya saat itu Anas Urbaningrum yang masih menjabat ketua umum Demokrat melempar wacana Sengkuni ini dan diterjemahkan banyak pihak terkait tokoh Demokrat lawan politik Anas kala itu.
Saat bincang-bincang santai dengan wartawan di kediamannya Duren Sawit Jakarta, Sabtu (4/5/2013), Anas sempat ditanya pers soal kelanjutan kisah Sengkuni.
Menurut Anas, itu adalah hiburan di dunia politik.
"Saya berusaha mengkreasi cara komunikasi politik yang jangan-jangan jadi cara komunikasi politik baru. Karena itu butuh kemampuan, kemampuan khusus menyampaikan dan menangkapnya," kata Anas.
Dia mengemukakan alasan mengangkat tokoh pewayangan Sengkuni saat itu.
"Itu saya lakukan untuk mempopulerkan wayang," kata dia.
Wayang, dalam pandangan Anas, adalah aset budaya bangsa yang makin hilang dari kamus budaya anak-anak muda sekarang.
"Termasuk hilang dari kamus politik," kata dia.
Ketika dia mengangkat tokoh Sengkuni saat itu maka makin ramai dibicarakan soal wayang. Dan wayang pun terkenal dari Sabang sampai Merauke.
Anak-anak muda dan bahkan orang-orang tua yang dulunya tidak tahu Sengkuni kini jadi tahu karena ramai diberitakan media massa, diperguncingkan sana-sini dan bahkan diterbitkan khusus bukunya soal itu.
"Saya dengar buku-buku wayang terbitannya bertambah. Saya surprise bahwa teman-teman di Papua, Ambon, Aceh semua tahu soal cerita Sengkuni dalam Mahabarata," kata Anas.
"Bayangkan kalau sosialisasi wayang dilakukan lewat cara konvensional. Betapa susahnya bagi orang Aceh, orang Manado, dan luar Jawa umumnya untuk memahami soal cerita dan budaya sejarah bangsa itu," kata dia.
Dalam cerita Mahabarata karangan Vyasa, Sengkuni adalah patih di Astina, sebuah kerajaan yang diperintah oleh pimpinan Kurawa, Prabu Duryudana. Karakter fisik Sengkuni digambarkan berbadan kurus dengan muka tirus dan cara bicara yang lemah, tetapi menjengkelkan.
Dalam lakon Mahabarata, Sengkuni digambarkan memiliki watak licik, senang menipu, menghasut, memfitnah, dan munafik. Gambaran tentang Sengkuni adalah refleksi orang yang ingin orang lain celaka. Dalam perang Baratayuda, Sengkuni tewas di tangan Bima. (aco)