Minggu, 31 Mei 2026

Nasib Korban Erupsi Gunung Kelud

Sampai Kapan Mereka Harus Mandi Air Lumpur

Yang masih jadi masalah adalah air bersih. Sebagian warga masih terpaksa mandi air bercampur lumpur dan air hujan.

Tayang:
Editor: Sugiyarto
Kompas.com/M.Agus Fauzul Hakim
Seorang penjual jasa bersih atap saat menjalankan jasanya membersihkan atap rumah warga dari abu vulkanik erupsi Gunung Kelud, Selasa (25/2/2014). Jasa pembersih atap mulai marak usai erupsi Kelud 13 Februari 2014 lalu. 

“Kalau untuk makan dan minum mungkin masih cukup. Kalau dipakai sekalian untuk mandi, ya tentu kurang. Jadinya kami kadang mandi sehari ya sekali, itupun sekali mandi hanya pakai air satu ember kecil. Kami sangat hemat air,” ujar Sugiono, warga Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri.

Untuk mandi dan keperluan lain, warga nekat menggunakan air yang mengalir di parit-parit. Tentu saja kondisinya keruh. Air ini berasal dari rembesan atau bocoran mata air yang bercampur lumpur.

“Airnya keruh karena pipa salurannya hancur. Ini menyebabkan lumpur, pasir, dan kerikil, ikut terbawa aliran. Warga tidak berani memanfaatkannya untuk minum, karena khawatir masih mengandung belerang yang berbahaya bagi kesehatan,” ujar Sugianto, perangkat desa Puncu yang bertugas mengendalikan aliran air.

Sebelum erupsi, air dari sumber di Jeding Miring itu mengalir ke perkampungan warga dalam kondisi sangat bersih.

Maklum, dalam situasi normal dulu, air dari sumber Jeding Miring dialirkan dulu ke kolam-kolam pengolahan, sebelum disalurkan ke lima desa, yang tersebar di Kecamatan Puncu dan Kepung. Distribusi dilakukan menggunakan jaringan pipa.

Kini, sumber air, kolam pengolahan dan jaringan pipa, semuanya rusak akibat erupsi dan banjir lahar dingin. “Kami sedang mencari sumber baru di Damar Wuluh. Kami sedang petakan untuk menyambung pipa,” kata Bambang, Kepala Desa Puncu.

Bambang dan warga tidak tahu, sampai kapan mereka akan mandi menggunakan air bercampur lumpur. Yang pasti, mereka berharap Pemprov Jatim serta pemkab segera membangun kembali bak pengolahan agar air bersih supaya bisa mereka nikmati seperti dulu lagi.

“Saya sudah sampaikan permohonan itu ke pemprov dan pemkab. Tetapi, sampai sekarang belum ada respons,” pungkas Bambang.

Sumber: Surya
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved