Polisi Sempat Kesulitan Bekuk Komplotan Penipu dan Pemeras Asal Tiongkok dan Taiwan
mereka pun menggunakan identitas palsu dalam melakukan penyewaan rumah maupun berlangganan intenet
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bareskrim mabes Polri sempat kesulitan menemukan lokasi persembunyian komplotan penipu dan pemeras asal Tiongkok dan Taiwan. Meski ada tim Cyber Crime yang mampu melacak IP Address tetapi pihak kepolisian tetap berusaha keras dengan menggunakan teknik spoofing atau proxy dengan cara memancarkan kembali streaming internet yang mereka terima dari service provider.
"Mereka memancarkan kembali streaming internet yang mereka terima dari Internet Service Provider melalui lebih dari satu relay station berupa ruko yang dirancang sendiri oleh kelompok pelaku ini," ujar Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Kamil Razak di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (21/7/2014).
Kepolisian saat mencari persembunyian juga harus menemukan hasil nihil karena penggerebekan di beberapa lokasi tidak berhasil.
"Kita gerebek beberapa gedung di sekitarnya ternyata tidak ada," ujarnya.
Kejahatan mereka semakin berkembang setelah dua gerombolan sebelumnya yang jumlahnya puluhan hingga ratusan orang mampu ditangkap polisi.
Selain itu, mereka pun menggunakan identitas palsu dalam melakukan penyewaan rumah maupun berlangganan intenet. Pembayaran yang dilakukan pun secara tunai.
"Ini untuk menghindari pelacakan yang dilakukan aparat," ujarnya.
Sebelumnya kepolisian mendeteksi kelompok ini berada di Kota Medan, Pekanbaru, Batam, Jakarta, Semarang, dan Bali. Mereka sengaja menyewa rumah mewah di lingkungan elite sehingga bisa menghindari pengawasan dari masyarakat di sekitarnya.
"Rumah-rumah disewa minimal selama satu tahun dengan rata-rata harga sewa Rp 30-40 juta per bulan, serta biaya berlangganan internet dan bandwith 10-20 Mbps seharga rata-rata Rp 10-20 juta per bulan," papar dia.
Kepolisian berhasil menciduk 56 warga Tiongkok dan Taiwan. Mereka terlibat dalam kasus penipuan dan pemerasan melalui internat atau sambungan telepon. Mereka terlebih dahulu menggali data korbannya di Tiongkok lalu dihubungi dengan meminta sejumlah uang.