Jumat, 23 Januari 2026

Berita Ekslusif Jakarta

Maimanah Umar Belajar dari Ceu Popong

Setelah membuka sidang paripuna MPR, Selasa (7/10) pukul 11.00 WIB, Maimanah bersiap membacakan agenda sidang.

Penulis: Abdul Qodir
Editor: Rachmat Hidayat
Tribunnews/Dany Permana
Ketua MPR RI yang baru, Zulkifli Hasan (tengah) menunjukkan palu persidangan bersama para Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (kiri), Mahyuddin (tiga kanan), EE Mangindaan (kanan), Oesman Sapta Odang (dua kanan) dan pimpinan sementara MPR RI, Maymanah Umar (tiga kiri) dan Rizky Pratama (dua kiri) usai pelantikan pimpinan MPR RI di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (8/10/2014). Paket dengan ketua Zulkifli Hasan yang diusung Koalisi Merah Putih akhirnya mengalahkan paket dengan ketua Oesman Sapta yang diusung Koalisi Indonesia Hebat melalui proses voting yang digelar anggota MPR. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA) 

Maimanah bersedia mengakomodir hampir seluruh interupsi karena ia berprinsip persatuan dan kesatuan di atas perbedaan kelompok disertai pendapat dan kepentingan masing-masing.

"Kita beda-beda, tapi kita sudah direkat oleh Bhinneka Tunggal Ika. Yang kita perjuangkan itu sama, kita ingin Indonesia lebih baik. Lalu, mengapa kita tidak bersatu," tuturnya.

Hal yang tidak kalah penting bagi Maimanah, adalah menjaga ucapan, sikap dan tindakan sebagai pimpinan sidang. Maimanah sangat menjaga dirinya agar tidak mengeluarkan perkataan yang menyinggung peserta sidang dan rapat gabungan.

"Saat saya memimpin rapat gabungan, seluruh partai hadir, ada pimpinan dan petinggi partai, menteri dan sebagainya. Tetapi rapat aman, karena saya tidak membuat mereka tersinggung. Apa gunanya membuat mereka tersinggung? Mungkin karena pengalaman saya, kata-kata yang saya ucapkan membuat sidang kondusif," ujarnya.

Menurut Maimanah, banyak godaan yang memancing emosinya pada saat memimpin sidang. Namun Maimanah bisa mengendalikannya.

"Saat sidang belum dimulai pun, kawan-kawan (DPR dan DPD) sudah interupsi. Padahal, saat itu acara interupsi memang mau saya buka. Mungkin itu menguji emosi saya. Tapi, saya  tidak terpancing, sabar saja menghadapi," tuturnya.

Maimanah juga selalu berdoa di dalam hati saat sidang mulai panas. "Saya memang mempunyai kekhawatiran juga. Saya berdoa, 'Ya Allah, jangan lah sampai ada masalah. Apalagi masyarakat melihat sidang itu," ungkapnya.

Kekhawatiran juga muncul dari anak dan cucunya yang menyaksikan aksi Maimanah dari televisi. Mereka khawatir Maimanah mendapat serangan fisik dari para anggota DPR yang murka.

"Anak-anak saya khawatir. Mereka khawatir akan seperti sidang DPR. Tapi, saya pasrah dan berdoa saja," katanya.

Anak dan cucu-cucu juga bersedih karena Maimanah tidak bisa pulang ke Riau untuk merayakan Idul Adha bersama mereka.

"Anak-anak bilang, kami sedih ibu nggak pulang. Saya bilang nggak apa-apa demi bangsa kita. Doakan ibu supaya bisa memimpin dengan baik," katanya sembari menitikkan air mata.

Maimanah juga menilai, kemampuannya memimpin sidang merupakan buah dari pengalamannya dalam berorganisasi.

Maimanah sudah berorganisasi sejak SD, menjadi ketua OSIS di SMP dan SMA, serta menjadi ketua senat sewaktu kuliah di Jurusan Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga (kini Universitas Islam Negeri Yogyakarta).

"Saya juga dipercaya oleh masyarakat Riau di banyak organisasi kemasyarakatan, semua itu berjalan dengan baik. Nggak ada masalah yang menyusahkan pikiran. Sebenarnya, masalah-masalah itu kita buat sendiri, masalah datang. Kalau masalah tidak kita buat, insya Allah nggaka ada masalah," ujarnya.

Selain itu, Maimanah juga telah empat periode menjadi anggota DPRD Provinsi Riau (1977-1982, 1982-1987, 1992-1997, 1997-1998) dan tiga periode menjadi anggota DPD (2004-2009, 2009-2014, 2014-sekarang).

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved