Senin, 13 April 2026

Prahara Partai Golkar

Ray Rangkuti Ungkap Dua Fraksi Selain Golkar Semangat Usung Angket

Ray Rangkuti mengungkap, beberapa anggota Golkar dengan semangat mengusungnya sekalipun belum tentu menjadi kebijakan fraksi Golkar.

Editor: Rachmat Hidayat
Tribunnews.com/Seno Tri Sulistiyono
Ray Rangkuti 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pasca legalisasi kepengurusan Partai Golkar versi munas Ancol oleh Kemenkumham, beberapa anggota DPR langsung mewacanakan hak angket. Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti mengungkap, beberapa anggota Golkar dengan semangat mengusungnya sekalipun belum tentu menjadi kebijakan fraksi Golkar.

"Yang unik adalah sekalipun kasus ini menimpa Golkar, tapi dua fraksi lain terlihat amat bersemangat mendukung hak angket ini. Yakni FPKS dan F Partai Gerindra. Memang mengejutkan, mengapa sampai dua fraksi ini terlihat lebih bersemangat bahkan dari fraksi Golkar sekalipun," ungkap Ray Rangkuti, Rabu (25/3/2015).

Jika keterlibatan Golkar lebih bersifat individu, lanjut Ray akan tetapi PKS dan Gerindra terlihat sudah seperti membawa gerbong fraksinya. Kukuhnya PKS dan Gerindra mendorong hak angket, lanjut Ray, kemungkinan karena dua hal.

Pertama, Ray menjelaskan, tentu saja menjadikan KMP tetap solid. Soliditas KMP, menurutnya, bukan semata untukpenyeimbang KIH di DPR dan menciptakn oposisi atas pemerintahan, tetapi juga penting dalam menjaga komposisi KMP yang sekarang.

"Dengan ditetapkannya kepengurusan baru Golkar versi munas Ancol, jelas ada potensi pergantian di berbagai posisi. Dengan begitu,ada potensi Golkar akan menarik diri dr KMP. Artinya, anggota setia KMP kelak hanya Gerindra dan PKS. Sementara PPP dan PAN juga punya potensi untuk mengalihkan dukungan," ujarnya.

Yang kedua, menurutnya, lebih dari sekedar komposisi keanggotaan KMP yang tercerai berai, bahkan perubahan ini juga dapat berakibat pada perubahan struktur kepemimpinan di DPR dan MPR. Peta fraksi DPR baru bisa saja menuntut dilakukannya kocok ulang unsur pimpinan, baik DPR maupun MPR.

"Skenarionya tetap mempertahankan Golkar tapi versi Agung Laksono, bersama PAN, dan PD. Sementara posisi PKS dan Gerindra bisa digantikan oleh PDIP dan PPP versi Romi. Nampaknya bacaan inilah yang membuat dua fraksi ini terlihat begitu galau," Ray menduga.

"Bila konsolidasi struktur baru Golkar telah selesai, ada potensi akan beranjak ke perubahan struktur kepemimpinan. Menyusul sesudah itu perubahan-perubahan kepemimpinan di lingkungan AKD. Caranya, dengan menggalang mosi tdk percaya khususnya kepada dua pimpinan DPR dari fraksi PKS dan Gerindra. Dengan berbagai dalih, mosi tidak percaya dapat digulirkan. Cerita gulung-menggulung baru dimulai," Ray menegaskan.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved