Anjing Jenis Pointer Mulai Jadi Primadona di Kepolisian
Di Indonesia hanya ada dua ekor anjing Pointer yang menjadi anjing polisi. Satu ekor di Ditpolsatwa Mabes Polri dan sisanya di Polda Maluku Utara.
Laporan Wartawan Wartakota, Theo Yonathan Simon Laturiuw
TRIBUNNEWS.COM, DEPOK - Anjing jenis German Shepherd asal Jerman selama kurang lebih lima dekade jadi primadona di Kepolisian Republik Indonesia. Tapi kini sudah mulai ditinggalkan sebagai anjing pelacak.
Baca juga: Anjing Pelacak Polri Pertama Hibah dari Pengusaha Belanda.
Di Detasemen K-9 Direktorat Polisi Satwa Badan Pemelihara Keamanan Polri, jumlah anjing German Shepherd tinggal segelintir. Bahkan di Unit K-9 Direktorat Sabhara Polda Metro Jaya, jenis German Shepherd sudah tak dipakai lagi.
Penyebabnya German Shepherd adalah anjing yang suka dengan udara dingin. Makanya cenderung tak cocok dengan udara tropis di beberapa kota Indonesia seperti Jakarta.
Baca juga: Polri Pernah Latih Anjing Ras Raksasa Eropa.
Makanya sejak dekade 2000-an, Polri mulai mendatangkan anjing berbulu pendek yang cocok dengan udara Indonesia. Seperti anjing ras Labrador, Belgian Mallinois.
Anjing jenis ini menjadi primadona di kepolisian. Apabila menengok markas K-9 Mabes Polri dan Polda Metro Jaya, maka anjing jenis-jenis itulah yang menggonggong dari kandang.
Namun belakangan muncul ras baru yang bakal jadi calon primadona di kepolisian, yakni anjing jenis Pointer. Anjing asal Inggris yang pertama muncul tahun 1650.
Baca juga: Anjing Kampung Asli Indonesia Pernah Dites untuk Pelacakan.
Anjing ini bertubuh tinggi, atletis dan berbulu pendek. Bentuk tubuhnya nyaris mirip anjing pelari Greyhound. Makanya staminanya kuat dan dipakai sebagai anjing pemburu di negara asalnya.
Di Indonesia baru ada dua ekor anjing Pointer yang menjadi anjing polisi. Satu ekor ada di Ditpolsatwa Mabes Polri dan sisanya di Polda Maluku Utara. Keduanya sama-sama berfungsi sebagai anjing SAR.
Fungsi utamanya adalah melacak mayat korban bencana. Unit SAR atau Unit Pelacak Mayat adalah unit termuda di Ditpolsatwa Mabes Polri. Unit ini baru terbentuk tahun 1995.
Kanit Satwa SAR atau Pelacak Kadaver (mayat) Sub Detasemen Pelacakan Khusus Detasemen K-9 Ditpolsatwa Baharkam Polri, Inspektur Dua Amali, terkagum-kagum dengan ketangguhan anjing Pointer. Dari skuad anjing pelacak mayat berjumlah sembilan ekor, hanya satu yang berjenis Pointer.
Menurut Amali, fisik anjing Pointer sangat kuat. Saat longsor di Banjarnegara, seekor Pointer bernama Reg yang dibawa olehnya menemukan titik lokasi mayat paling banyak, ketimbang lima ekor anjing lain yang juga ia bawa. Saat itu ada 39 titik lokasi mayat yang ditemukan, dan Reg menemukan 10 titik lokasi mayat. Sisanya oleh lima anjing lainnya.
"Penciumannya tajam walau staminanya terkuras kelelahan. Saya perhatikan tak mengurangi penciuman anjing Pointer," kata Amali kepada Warta Kota di ruang kerjanya, Selasa (31/3/2015).
Belum lagi saat bencana longsor Banjarnegara, anjing Pointer itu terbukti mampu menyusur lokasi longsor yang amat luas itu. Bahkan sampai pawangnya kewalahan mengikuti anjing Pointer. "Tinggi sekali daya jelajahnya," ucap Amali.
Lalu, kata Amali, Pointer juga tahan terhadap penyakit dan tak sensitif dengan cuaca. Makanya tak repot untuk merawatnya. "Saya sudah bilang sih ke atasan, kalau ada pengadaan lagi, saya minta jenis Pointer," ucap Amali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/anjing-pointer_20150404_121258.jpg)