Breaking News:

Sekap 28 Orang, Pria Jawa Timur Ditangkap Kepolisian Makau

Kepolisian Makau menangkap seorang warga Tiongkok berinisial FKY dan seorang TKI asal Jawa Timur, SJ sebagai tersangka penyekapan 28 orang.

zoom-inlihat foto Sekap 28 Orang, Pria Jawa Timur Ditangkap Kepolisian Makau
IST
ILUSTRASI

Laporan Edwin Firdaus

‎TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepolisian Makau menangkap seorang warga Tiongkok berinisial FKY dan seorang TKI asal Jawa Timur, SJ sebagai tersangka penyekapan 28 orang.

Mendapat informasi tersebut, Pemerintah Indonesia langsung bergerak cepat menelusuri kasus tersebut, dan rencananya hari ini tim Indonesia mendatangi pihak-pihak otoritas setempat.

"Terkait kasus tersebut, saya baru berbicara dengan Konsul di Hongkong, pagi ini akan ditindaklanjuti," kata Direktur Perlindungan WNI dan BHI, Kemenlu Indonesia, Lalu Muhammad Iqbal di konfirmasi wartawan, Jumat (17/4/2015).

Untuk diketahui, FKY dan SJ ditangkap lantaran diduga telah melakukan perdagangan manusia dengan menyekap 28 orang di sebuah Kamar di Kawasan Ho Lan Un, Makau SAR. 16 di antaranya merupakan warga Indonesia.

"Kepolisian Makau menjelaskan kepada kami bahwa tempat itu semacam penampungan orang-orang yang sedang menunggu turunnya visa kerja dari Pemerintah Hong Kong, dan 16 TKI itu memang sengaja dikirim ke sana oleh agen-agen tenaga kerja mereka di Hong Kong," kata Konsul Hukum Reda Manthovani, Kamis (16/4), sebagaimana dikutip dari BBC Indonesia.

Kepolisian Makau berhasil menggerebek tempat penampungan itu berdasarkan laporan seorang korban yang berhasil melarikan diri. Saat berita ini diturunkan, 16 TKI korban kasus tersebut telah dipulangkan kembali ke Hong Kong dan Indonesia.

SJ yang berusia 48 tahun itu sebenarnya juga merupakan TKI yang bekerja di Makau. Namun di sela waktu kerjanya, SJ bersama warga China berisial FKY membuka penampungan untuk para calon buruh migran asal Bangadesh dan Indonesia yang harus menunggu visa kerja Hong Kong mereka di Macau.

Ditulis kontributor BBC, Valentina Djaslim, dikabarkan Imigrasi Hong Kong mengharuskan buruh migran termasuk TKI untuk meninggalkan wilayah Hong Kong setelah 2 minggu kontrak kerja mereka selesai.

Peraturan ini menjadi masalah jika TKI tersebut ingin melanjutkan kontrak kerja mereka di Hong Kong, karena proses mengurus visa kerja lanjutan umumnya memakan waktu lebih dari satu bulan. Akibatnya agen-agen tenaga kerja di Hong Kong biasa mengirim para TKI ke Makau dan baru kembali ke Hong Kong setelah visa kerja mereka keluar. Penduduk Makau pun banyak membuka semacam penginapan murah untuk menampung para calon TKI ini seharga MOP50 (sekitar Rp.80.000) per hari.

Konsul Hukum KJRI, Reda Manthovani menjelaskan, tindakan SJ membuka penampungan warga asing tersebut berkembang menjadi dugaan trafficking karena 16 TKI itu diambil paspornya dan disekap tak boleh keluar kamar.

"Para TKI ini memang dikirim untuk menunggu visa mereka di sana (penampungan milik SJ) oleh agen-agen mereka di Hong Kong, tapi SJ kemudian menahan paspor-paspor TKI itu karena khawatir mereka akan kabur, dan melarang para korban keluar kamar sama sekali," kata Reda Manthovani.

Sementara hukum di Makau SAR melarang siapapun menahan dokumen milik orang lain termasuk paspor untuk tujuan apapun. "Selain itu, kondisi kamar tempat menyekap para TKI itu juga sangat tidak layak karena 28 orang dipaksa tinggal di ruangan berukuran tak lebih dari 800 meter persegi," ujarnya. Reda sendiri telah menemui langsung SJ di tahanan Kepolisian Makau.

Penulis: Edwin Firdaus
Editor: Gusti Sawabi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved