Advertorial
Menelisik Tekad Bangsa Asia-Afrika di Gedung Merdeka
Gedung Merdeka yang bersatu dengan museum Konperensi Asia Afrika itu pernah dikunjungi sejumlah tokoh dunia, seperti mantan Sekjen PBB Kofi Annan.
TRIBUNNEWS.COM – Penyelenggaraan peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) akan mencapai puncaknya di Bandung, 24 April 2015 mendatang. Bertempat di Gedung Merdeka, Presiden Joko Widodo bersama para kepala negara dan pemerintahan akan melakukan napak tilas sejarah KAA tahun 1955.
Bernama “Historical Walk”, napak tilas itu akan dilakukan dari Hotel Savoy Homann ke Gedung Merdeka. Gedung yang dirancang Van Gallen dan C.P.W. Schoemaker di tahun 1922 itu memang terkenal sebagai tempat yang sarat nilai sejarah.
Sejarah mencatat, bangunan bergaya Art Deco itu awalnya hanya bangunan sederhana tempat berkumpul orang Eropa, khususnya Belanda. Kala itu namanya masih “Societeit Concordia”. Para pemuda, tuan tanah, dan para bangsawan Belanda sering berkumpul di sana malam hari untuk bersuka ria.
Namun, setelah Belanda angkat kaki karena kalah perang, gedung tersebut diubah menjadi “Dai Toa Kaikan” oleh Jepang. Meski berganti kepemilikan, tapi fungsinya tidak banyak berubah. Jepang memfungsikannya sebagai pusat kebudayaan dan tempat minum-minum.
Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan di tahun 1945, gedung yang terletak di Jl. Asia Afrika no. 65 itu pun berganti nama menjadi “Gedung Merdeka”. Penamaannya diberikan oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno, sebelas hari sebelum dimulainya KAA tahun 1955, 7 April.
Pada saat itulah, Gedung Merdeka menjadi saksi lahirnya Dasa Sila Bandung yang menginspirasi bangsa-bangsa Asia-Afrika bersatu melawan penjajahan. Kerja sama untuk membangun perdamaian dunia pun dilakukan dengan inisiatif lima negara penggagas KAA, yakni Indonesia, Burma (sekarang Myanmar), Ceylon (sekarang Sri Lanka), India dan Pakistan.
KAA 1955 yang bertempat di Gedung Merdeka pun dihadiri 29 negara yang terdiri dari 6 negara Afrika dan 18 negara Asia, di antaranya Filipina, Thailand, Laos, Jepang, Iran, Irak, Turki, Mesir, Sudan, Etiophia, Libia, dll.
Setelah sempat menyandang nama Gedung Konstituante dan Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) usai Pemilu 1955 hingga 1971, Gedung Merdeka pun kemudian difungsikan sebagai museum oleh Presiden Soeharto, 24 April 1980.
Sejak itulah, nama “Museum Konperensi Asia Afrika” menjadi akrab di telinga publik. Berbagai fasilitas museum pun dibangun dan dirancang, di antaranya ruang pameran tetap, diorama, perpustakaan, ruang audio visual, hingga fasilitas riset bagi peneliti.
Sejak berdirinya hingga kini, museum Konperensi Asia Afrika yang bersatu dengan Gedung Merdeka itu pernah dikunjungi sejumlah tokoh dunia, misalnya mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Boutros Boutros Ghali dan Kofi Annan. Selain itu, pada hari-hari tertentu, turis domestik dan asing pun ramai mengunjungi Gedung Merdeka dan Museum KAA.
Disertai semangat Bung Karno yang telah menyuarakan “Let a New Asia and a New Africa be Born” dalam pidato KAA-nya 60 tahun silam, Indonesia kini siap menyongsong tatanan baru serta keseimbangan dan keadilan demi terwujudnya dunia yang adil bagi seluruh bangsa.
Presiden Indonesia Joko Widodo, Perdana Menteri Palestina Rami Al Hamdallah, Presiden Tiongkok Xi Jinping, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, serta para kepala negara dan pemerintahan negara Asia-Afrika lainnya akan bersatu padu menggelorakan semangat yang sama demi perdamaian dunia.
Dan semua itu akan tersimpan rapat di balik dinding-dinding yang tak bisa berbicara di Gedung Merdeka, Bandung, 24 April 2015 mendatang. (adv)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/konferensi-asia-afrika_20150420_045812.jpg)