Siswa Kaya atau Miskin, Mana yang Lebih Pintar?
Dalam melakukan penelitian ini, Columbia University mengukur besar korteks otak besar dari penghasilan orang tua mereka.
SURYAMALANG.COM, NEW YORK - Dua perguruan tinggi bergengsi dunia, Columbia University, di New York, AS, serta Massachussets Institute of Technology (MIT), membuat penelitian tentang hubungan status ekonomi dan kapandaian seorang siswa.
Menurut penelitian mereka, siswa kaya, rata-rata akan lebih pandai dari mereka yang miskin.
Neuroscientists, atau para pakar otak di Columbia University, mencatat, anak-anak dari keluarga miskin di Amerika, punya korteks otak besar yang 6 persen lebih kecil dari mereka yang dibesarkan oleh keluarga kaya.

Korteks otak besar adalah bagian dari otak yang mengolah kepandaian bahasa, mengingat, dan memaknai.
Dalam melakukan penelitian ini, Columbia University mengukur besar korteks otak besar dari penghasilan orang tua mereka.
Hasilnya, semakin besar penghasilan, maka semakin besar pula korteks otak besar mereka.
"Kita sudah tahu lama bahwa kemiskinan dan kurangnya akses untuk memperkaya wawasan, sangat berhubungan dengan rendahnya pencapaian seorang siswa di sekolah,"
"Tapi, ternyata sekarang kita bisa melihat kenyataan itu dari ukuran otak. Ini sangat penting," kata Elizabeth Sowell, dari Children's Hospital Los Angeles, mengomentari hasil penelitian ini, sebagaimana dilansir The Daily Mail, Sabtu (18/4/2015).
Profesor MIT, John Gabrieli, mengatakan,kemiskinan memang harus diakui memberikan pengaruh dalam daya belajar seseorang.
Menurut John, menjadi miskin artinya membuat akses belajar menjadi terbatas.
Penelitian lain menunjukkan, siswa miskin rata-rata menjadi kurang pandai karena banyak dari mereka mengalami stres dibesarkan dalam kemiskinan.
Penelitian ini seharusnya menunjukkan, bahwa anak-anak orang yang berkecukupan akan rugi bila tak mampu memanfaatkan kelebihan yang mereka dapatkan.
Apalagi bila kalah bersaing dengan mereka yang kurang beruntung.
Penelitian ini belum mendapat tanggapan dari ilmuwan di Indonesia.
Tetapi kenyataannya, banyak siswa-siswa terbaik tanah air yang justru berasal dari keluarga miskin.
Salah satunya Raeni, lulusan terbaik Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE), Universitas Negeri Semarang.
Dia adalah anak seorang tukang becak. Saat wisuda dia diantar ayahnya, Mugiono dengan becaknya.
Hidup dalam keluarga dengan ekonomi pas-pasan, Raeni justru membuktikan keunggulan dan prestasinya untuk meniti masa depan yang lebih baik.
Ia mampu membahagiakan keluarganya.
Penerima beasiswa Bidikmisi ini beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4.
Prestasi itu dipertahankan hingga akhirnya lulus kuliah.
Dia lulus dan ditetapkan sebagai wisudawati terbaik dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,96.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/20140611_155903_anak-tukang-becak-dapat-beasiswa-inggris.jpg)